Masih Minim, Masyarakat Belum ‘Merdeka’ Nonton Bioskop

TANGGAL 17 Agustus 2016, Indonesia bakal merayakan Hari Kemerdekaan yang ke-71. Bebas dari penjajah, Indonesia masih harus terus berjuang untuk memenuhi hak-hak warga negaranya, mulai dari menyediakan pendidikan, pekerjaan, fasilitas kesehatan, keamanan, dsb. Namun kerap kita lupa bahwa ada kebutuhan lain yang kita butuhkan, yaitu kebutuhan akan hiburan.

Jika melihat jumlah bioskop di Indonesia yang hanya 1100 layar, rasio perbandingan layar dengan populasi penduduk di Indonesia masih sangat rendah. Data dari Badan Ekonomi Kreatif menyebutkan hanya 100.000:0,4. Bandingkan dengan Amerika Serikat yang rasionya sudah 100.000:14, atau Cina 100.000:1,8. Bahkan negara tetangga seperti Malaysia sudah 100.000:2,4.

Dilihat dari film Indonesia tersukses saja, Laskar Pelangi, baru ditonton 4,6 juta penonton. Lalu ke mana 200-an juta penduduk yang lain? Banyak dari mereka yang ‘belum merdeka’ untuk mengakses bioskop. Penduduk dari Nganjuk, Jawa Timur harus menempuh perjalanan 1 jam hanya untuk mendapatkan tiket nonton Golden Theater di Kediri. Itu saja belum tentu dapat.

Sekira 87 persen bioskop hanya ada di Pulau Jawa. Perlu ekspansi yang lebih agresif untuk menambah jumlah layar bioskop di  luar Pulau Jawa. Platinum Cineplex misalnya, berani untuk memerdekakan penduduk di Sulawesi Utara dengan membangun studio di Bitung, sehingga warga di sana tidak perlu menempuh 43 km ke Manado hanya untuk menonton film favorit. Lalu, sudah merdekakah warga negara dalam nonton bioskop? (BookMyShow)

 

BERITA REKOMENDASI