Pamerkan Hasil Rongten Paru, Vape di Yogya Tak Terpengaruh Isu Miring

RATUSAN orang dari berbagai komunitas rokok elektrik vape di Yogyakarta memamerkan hasil rongten paru-paru di Hotel Merapi-Merbabu, Sabtu (1/2/2020). Mereka menjawab isu miring yang berkembang belakangan tentang bahaya vape yang dituding menyebabkan penyakit pada paru. 

Rongten paru dilakukan komunitas vape Jogja sejak akhir 2019 lalu dan dipamerkan di awal Februari sebagai bagian dari Indonesia Vape Expo (Invex) 2020 dan gerakan JogjaBerparuNyaman. Hasil tersebut dibarengkan dengan dialog yang mengundang beberapa narasumber berkompeten yakni Dr Arifandi Sanjaya, Ariyo Bimmo Soedjono dari Koalisi Indonesia Bebas TAR, Eko HC dan Emkay Brewer. 

Menarik, terungkap fakta bawasanya saat ini trend penggunaan vape justru mengalami peningkatan, meski isu tak sedap kerap didekatkan pada rokok elektrik ini. Robertus Bryan Alfano, salah satu pelaku usaha vape mengungkap bawasanya penjualannya meningkat hingga 200 persen di periode Desember 2019 hingga Januari 2020 lalu. 

“Trendnya malah terus naik bahkan rekok selama penjualan sejak 2016 lalu. Ternyata isu miring vape tidak mempengaruhi minat masyarakat, terlebih mungkin adanya kenaikan cukai rokok cukup mempengaruhi,” ungkapnya pada wartawan di sela acara. 

Ariyo Bimo Soedjono, Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR juga mengamini hal tersebut lantaran ia memegang datang pengguna vape jumlahnya mencapai 1,5 juta untuk wilayah Indonesia. Jumlah tersebut bahkan menurut para pengusaha vape terus berkembang dari waktu ke waktu. 

“Terakhir data pengguna vape di Indonesia ini mencapai 1,5 juta dan jumlah ini terus meningkat tampaknya. Ada banyak testimoni yang menyampaikan mereka lebih sehat setelah menggunakan vape, ini mempengaruhi masyarakat meski dari sisi harga, cukainya sangat tinggi sampai 57 persen,” tuturnya. 

Ariyo menilai, adanya tembakau alternatif seperti salah satunya vape dirasakan memiliki sisi positif terbukti dari hasil rongten yang dipamerkan komunitas di Yogyakarta kali ini. Ia mencontohkan di beberapa negara Eropa dan bahkan Jepang, vape digunakan untuk terapi berhenti merokok oleh masyarakat. 

“Sebenarnya kalau mau melihat parktik di negara maju misalnya Inggris, tiap tahun 70 ribu orang berhenti merokok dan beralih ke tembakau alternatif lainnya. Jepang juga demikian, artinya mereka sudah meneliti terlebih dahulu sehingga masyarakat yakin, untuk opsi berhenti merokok. Teman-teman di Jogja ini ingin sampaikan pesan dengan melakukan rongten yang sebelumnya vape dibilang membahayakan paru-paru dan membuat rusak, tapi hasil ini memperlihatkan paru-parunya baik-baik saja dan malah lebih baik daripada saat masih merokok,” tandas dia. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI