Sopir Taksi Online Nyaris Dibayar Gula oleh Penumpang di Yogyakarta

Satya pun merasa terbantukan dengan adanya layanan ganti tujuan di aplikasi GrabCar. Dengan begitu, ia tetap bisa mengantar penumpang ke rumah sakit lain yang memiliki ketersediaan kamar. Ia bahkan pernah menempuh perjalanan hingga 3 jam untuk berpindah mencari rumah sakit yang bisa menerima pasien COVID-19.

Cara tersebut didapatkan oleh bapak satu anak ini setelah dirinya mengikuti berbagai macam pelatihan di GrabAcademy. Melalui pelatihan tersebut, Satya tahu betul bagaimana memberikan pelayanan terbaik, menerapkan protokol kesehatan agar tidak memiliki potensi penularan virus.

“Bersyukur sejauh ini saya sehat. Jika ada menerima pesanan dari penumpang yang mengaku maupun tidak mengaku positif COVID-19, tetap saya perlakukan sama asal sesuai protokol kesehatan. Bisa dibilang di masa pandemi ini kita anggap semua orang memiliki potensi terpapar COVID-19 aja, yang penting tetap waspada,” tuturnya.

Sigap memberikan pertolongan dan melayani terhadap penumpang memang sudah keseharian Satya yang bekerja sebagai mitra pengemudi GrabCar. Sudah empat tahun lebih ia bekerja sebagai sopir taksi online. Kegiatan tersebut ia lakoni di sela-sela aktivitasnya sebagai pegawai kantoran di salah satu perusahaan swasta di Yogyakarta.

“Bekerja sampingan menjadi pengemudi sopir taksi online, merupakan salah satu cara buat saya untuk mendapatkan penghasilan tambahan untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga,” jelasnya.

Lantaran statusnya masih pegawai kantoran, Satya pun harus pintar-pintar dalam mengatur waktu untuk mengantar penumpang. Pria bertubuh gempal ini mengawali langkahnya dari rumah di Trimulyo, Jetis, Bantul dan bergegas menuju pangkalan favoritnya di Stasiun Tugu Jogja untuk menanti calon penumpang. Tepat pukul 9 pagi, ia pun mulai bergeser ke kantornya yang terletak di Jalan Magelang, Sleman.

“Biasanya sebelum matahari terbit, saya sudah mulai berangkat dan menyalakan aplikasi agar mendapatkan penumpang lebih awal sebelum saya masuk kantor. Terkadang suka merasa sedih, karena tidak bisa menghabiskan waktu luang bersama keluarga. Pagi menjadi pengemudi taksi online, siangnya bekerja di kantor sehingga sesampainya di rumah pun sudah gelap,” pungkasnya. (*)

 

BERITA REKOMENDASI