’Copy-paste’ Pendidikan Ortu, Tak Selalu Pas

PERLU ada ‘intervensi’ atau ‘campurtangan’ pemerintah/negara melalui penguatan peran dan fungsi orangtua dengan pendekatan budaya. Hal ini perlu dilakukan sebagai salah satu pengejawantahan strategi kebudayaan sehingga generasi muda bisa disiapkan dengan lebih baik. 

Jika generasi muda baik, maka pertahanan negara yang non militer juga akan kuat. Karena zaman yang berbeda, mendidik anak secara copypaste pendidikan orangtua yang diperolehnya dulu, tidak selalu pas karena zaman yang berbeda.

 

"Di DIY, Perdais Kebudayaan bisa sebagai panduan strategi kebudayaan,”
tandas Anggota Komnas Anak Dr Sari Murti dalam diskusi terbatas di Kantor
Lembaga Perlindugan Anak (LPA) DIY, Sabtu (3/6) petang. Diskusi diselenggarakan terkait dengan upaya munculnya kelompok radikal yang menyasar anggota anak-anak, kelompok kekerasan beranggotakan anak seperti klithih dan sejenisnya.

”Intervensi atau campurtangan di sini bukan berarti terus pemerintah/negara
mengurus dan masuk ke dalam ranah keluarga. Namun dalam hal ini pelaksanaan dan penguatan parenting dilaksanakan dengan lebih baik,” sebut Sari. Selain menurutnya, kelompokkelompok di masyarakat seperti PKK, kegiatan Yandu, PAUD perlu lebih mem-break down upaya menghadirkan pendidikan yang menyiapkan anak muda lebih baik.

Menurutnya, penguatan parenting salah satunya adalah lebih pada bagaimana persiapan membangun rumahtangga. Dengan strategi budaya menurut Sari Murti bisa diperluas dengan mengajarkan bagaimana pola asuh anak. Misal bagaimana mengajarkan anak bergotong royong, bertoleransi, menghormati yang lebih tua, antre sesuai dengan budaya kita.

Mendidik anak di sini, ujar Sari, bahkan sampai menggunakan tempat-tempat umum seperti toilet, bahkan termasuk mengajarkan anak balita untuk menyampaikan keinginan buang air kecil atau buang air besar serta tidak membiasakan anak balita terus menerus diberi pampers. "Sehingga tidak memaknai kebudayaan dengan sempit,” tambah Sari. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI