Akibat Pandemi, 10,3 Persen Hubungan Pasutri Makin Tegang

Hal ini mengindikasikan pengaruh tekanan ekonomi pada potensi kekerasan di dalam rumah tangga. Padahal, ujar Anggota Komnas Perempuan ini, bertambahnya beban pekerjaan rumah tangga sudah membuat 1 dari 3 perempuan mengalami stres.

Realita ini disebutnya mengindikasikan adanya hubungan antara kelas sosial ekonomi tertentu dengan tingkat keharmonisan rumah tangga selama Covid-19, di mana mayoritas korbannya lebih banyak perempuan. Untuk kekerasan psikologis, 15,3 persen, atau 289 perempuan, menjawab kadang-kadang mengalami, dan 3,5 persen, (66 orang) perempuan, menjawab sering mengalami. Yang cukup ironis, menurut Alimatul, ternyata tingkat pendidikan tidak memberi pengaruh keberanian pada korban untuk melaporkan kasusnya. Karena 70 persen perempuan korban ini berpendidikan sarjana.

Ekonomi rumah tangga juga terdampak cukup parah dalam masa pandemi ini. Sebanyak 72 persen melaporkan bahwa pengeluaran semakin bertambah di masa pandemi. Beban pengeluaran ini juga bertambah dengan adanya biaya tambahan untuk kuota internet selama belajar dan kerja dari rumah, juga sarana teknologi lainnya seperti laptop atau mobile phone yang memadai untuk kebutuhan kerja dan belajar online. Apalagi harga kebutuhan pangan juga mengalami kenaikan di pasaran, yang mendorong pengeluaran menjadi meningkat dari biasanya.

“Dalam kondisi ini hanya 1 persen yang melaporkan penghasilan bertambah,” tandas Alimatul. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI