Ini Balasan Buat Penimbun Barang yang Sengaja Cari Untung

PERMINTAAN masker di Indonesia sedang tinggi sejak wabah virus corona muncul di Tanah Air. Masyarakat yang dilanda kepanikan langsung berburu masker untuk tindakan perlindungan diri.

Padahal, Kementerian Kesehatan hingga WHO sudah mengimbau agar tidak perlu menggunakan masker jika dalam keadaan sehat. Masker hanya untuk mereka yang sakit dan dalam masa penyembuhan agar tidak menular ke yang lain.

Tingginya permintaan masker tersebut memicu praktik nakal sebagian penjual dan orang yang mencoba mencari keuntungan. Mereka memborong masker di pasaran, menimbunnya lalu menjualnya dengan harga tidak rasional.

Bahkan ada juga yang sampai hati menjual masker ke luar negeri. Padahal, saudaranya di dalam negeri banyak yang membutuhkan.

Tentu praktik ini sangat merugikan. Tetapi, bagaimana status hukumnya dalam Islam?

Dikutip dari Bincang Syariah, praktik penimbunan ternyata sudah ada sejak dulu. Bahkan ketika Rasulullah Muhammad SAW masih hidup.

Menimbun barang jelas dilarang baik secara aturan umum maupun syariat. Dalam Islam sendiri, larangan menimbun barang langsung disampaikan oleh Rasulullah SAW sendiri lewat sejumlah hadisnya.

Salah satu hadis yang melarang praktik penimbunan barang diriwayatkan Imam Ahmad dari Abu Hurairah Radliyallahu ‘Anhu.

Siapa yang menimbun bahan kebutuhan manusia dan hendak memahalkan harganya untuk kaum muslimin, maka dia berdosa.

Hadis lainnya diriwayatkan Imam Ibnu Majah dari Umar bin Khattab Radliyallahu ‘Anhu. Dalam hadis tersebut, Rasulullah sampai mengeluarkan ancaman bagi pelaku penimbunan barang.

Siapa yang menimbun makanan (dan menyulitkan) atas kaum muslimin, maka Allah akan menyiksanya dengan kebangkrutan dan penyakit kusta.

Dua hadis di atas dijadikan dasar oleh para ulama untuk mengharamkan praktik penimbunan barang. Apalagi jika barang tersebut sifatnya sangat dibutuhkan manusia.

Terkait komoditasnya, Mazhab Syafi’i memandang praktik penimbunan haram hukumnya untuk makanan pokok. Sedangkan barang selainnya tidak diharamkan.

Dasar pertimbangannya adalah makanan adalah barang pokok yang sangat dibutuhkan manusia. Sementara barang-barang lainnya tidak sederajat dengan makanan pokok.

Tetapi, para ulama lain dan sebagian ulama Mazhab Syafi’i memandang keharaman penimbunan tidak dikhususkan pada makanan. Semua barang yang sangat dibutuhkan manusia diharamkan jika sampai ditimbun karena dapat mendatangkan mudharat atau kerusakan.(*)

BERITA REKOMENDASI