Kontrol Berlebihan Pada Pasangan Termasuk Bentuk Kekerasan

YOGYA (KRjogja.com) – Kekerasan dalam hubungan laki-laki dan perempuan bukan hanya terjadi pada sepasang suami istri. Kontrol yang berlebihan dari salah satu pihak dalam hubungan asmara para remaja juga merupakan sebuah kekerasan.

Hal tersebut ditegaskan oleh Dr Sari Murti SH MHum selaku ketua Forum Perlindungan Korban Kekerasan (FPKK) DIY dalam acara Car Free Day Toegoe Jogja Festival, Minggu (4/12/16).

"Kontrol berlebihan seperti membatasi pertemanan pasangan dan mengatur segalanya dalam kehidupan pasangan itu bukan bentuk cinta, itu termasuk kekerasan," ujar Sari Murti.

Sari Murti menambahkan bahwa yang menjadi korban kekerasan dalam hubungan asmara remaja kebanyakan adalah perempuan. Menurutnya, hal tersebut terjadi karena budaya masyarakat kita yang masih patriarki. Hal tersebut membuat laki-laki merasa lebih punya hak untuk mengatur pasangannya.

"Budaya patriaki melahirkan justifikasi bahwa pria lebih memiliki sturktur sosial yang kuat jadi punya hak untuk mengontrol perempuan. Sebenarnya mengontrol kalau untuk kebaikan tidak apa-apa, yang salah itu kalau segalanya dikontrol oleh laki-laki," paparnya.

Untuk para perempuan yang terjebak hubungan asmara tidak sehat dengan kontrol berlebihan, Sari Murti menyampaikan sebuah pesan. "Untuk lepas dari kekerasan itu, yang penting dari pihak perempuan harus memilki kesadaran dulu bahwa baik itu laki-laki maupun perempuan, semua sama-sama ciptaan Tuhan, yang diciptakan untuk saling kerjasama, tidak ada yang dominan," jelasnya.

Sari Murti mengungkapkan bahwa angka kekerasan dalam hubungan asmara pada remaja di Yogyakarta telah mencapai angka yang tinggi. Namun, ia tidak bisa menyebut angka pastinya. Ia juga memaparkan angka kekerasan yang tinggi itu termasuk kekerasan seksual dan kehamilan di luar nikah yang berujung aborsi.

Di akhir sesi wawancara Sari Murti mengatakan bahwa kasus kekerasan dalam rumah tangga seringkali berasal dari kekerasan dalam hubungan asmara semasa remaja dan hubungan itu dilanjutkan dalam jenjang pernikahan.

Maka dari itu, Sari Murti menegaskan bahwa sebagai perempuan tidak boleh lemah. "Kelemahan perempuan ada pada telinga. Perempuan itu harus tetap kuat meskipun dirayu dengan kata-kata," tutupnya. (Mg-07)

 

BERITA REKOMENDASI