Mengejutkan! Konsumsi Adegan Asusila Naik Saat Pandemi Corona

Kalau memang ada unsur komersial (promosi, teaser, dan sejenisnya), lanjut Reza, motifnya adalah instrumental. Memperoleh manfaat dari pelanggaran hukum yang mereka lakukan.

“Namun, kalau sebatas iseng, apa boleh buat, sebagian orang mendemonstrasikan watak narsistik mereka dengan cara eksibisionisme (mempertontonkan bagian tubuh yang sensitif kepada orang lain,” tuturnya.

Ngerinya, kata Reza, jika mereka tidak sadar bahwa di kejauhan ada orang yang melakukan pelecehan terhadap mereka secara maya dan real time. Juga di dunia nyata, mereka nantinya bisa punya kerawanan lebih tinggi untuk menjadi korban kejahatan. Pada sisi ini, masuk akal ketika polisi menetapkan mereka sebagai korban.

Reza berpendapat, jika ketiganya sadar, tidak di bawah paksaan atau tekanan, dan semakin menjadi-jadi seiring banyaknya komentar netizen, maka bisa dipahami bahwa ketiga remaja tersebut secara sengaja memproduksi dan menyebarluaskan tayangan pornografi. Ini memosisikan mereka sebagai pelaku.

Lantas mana yang harus didahulukan, status korban atau pelaku?

“Dahulukan penanganan terhadap mereka selaku korban. Kenakan sanksi sesuai UU ITE dan UU SPPA. Kalau mereka lesbian, berarti ada agenda tambahan untuk meluruskan orientasi homoseksual mereka,” tegasnya.

Lanjut dikatakan Reza, kejadian di Palangkaraya, ada tanda-tanda cybersex mirip live show by request.

Di Barat, itu sudah sejak lama menjadi kegiatan komersial. Work from home dalam wujud hina-dina.(*)

BERITA REKOMENDASI