Peneliti Temukan Titik Pusat Stres pada Otak Manusia

STRES adalah suatu kondisi yang tidak terhindarkan oleh semua manusia. Tahukah Anda? Ada hasil penelitian terbaru yang ditemukan oleh para ilmuwan di Universitas Yale, Amerika, tentang kondisi stres.

Penemuan hasil studi penelitian tim ilmuwan di Universitas Yale tersebut, terkait dengan titik lokasi tempat tinggal stres berada di otak. Mengutip Foxnews, Jumat (29/5/2020), stres level lebih tinggi ditemukan di hypothalamus. Sedangkan lokasi tempat tinggal stres yang lebih rendah levelnya, disebutkan ditemukan di area dorsal lateral frontal cortex.

Dalam penelitian ini, dilakukan pemindaian fMRI kepada subjek penelitian yang dilakukan sambil melihat gambar-gambar penuh kesedihan dan kesulitan. Contohnya gambar anjing yang menggeram, wajah yang dimutilasi, atau gambar keadaan toilet yang kotor.

Para ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini mengungkapkan, dari penelitian ini ditemukan bahwa sebetulnya manusia melakukan sesuatu untuk bisa melemahkan stres itu sendiri.

“Temuan kami menunjukkan bahwa individu menggunakan jaringan positif dan negatif secara adaptif, untuk melemahkan perasaan stres. Artinya peserta yang memiliki konektivitas lebih tinggi dengan jaringan negatif. Tapi di saat yang bersamaan, konektivitas lebih rendah dengan jaringan yang positif,” bunyi penjelasan tim ilmuwan Yale.

Di tengah kondisi pandemi corona seperti saat ini, masyarakat global memang menderita tekanan psikologis yang meluas aspeknya. Bukan cuma soal kesehatan, seperti takut terinfeksi, isolasi, takut kehilangan anggota keluarga, sampai kepada takut menjadi berjarak dengan orang-orang yang dicintai, hingga tekanan psikologis tentang gejolak ekonomi finansial.

Sementara itu, Rajita Sinha, Profesor di Pusat Studi Anak, Department Ilmu Saraf dan sekaligus Foundations Fund, Yale berharap dengan hasil penelitian ini ke depannya terapeutik yang diberikan bisa disesuaikan ke berbagai target, termasuk kaum yang paling rentan. Contohnya orang-orang lanjut usia, para tenaga medis yang bekerja sebagai garda terdepan, dan sebagainya.

“Temuan ini kemungkinan bisa membantu kami menyesuaikan intervensi terapeutik ke berbagai target. Contohnya, menambah kekuatan koneksi dari hippocampus ke korteks frontal, atau bisa juga mengurangi sinyal ke pusat-pusat stres fisiologis,” pungkasnya.

BERITA REKOMENDASI