Ramadan: Bulan yang Istimewa

BULAN suci Ramadan adalah bulan penuh kasih sayang Allah Swt kepada hamba-Nya (rahmat). Pada bulan ini Allah Swt berkenan mencurahkan ampunan (maghfirah), dan menjanjikan pembebasan dari neraka (itqun min al-nar). Di bulan Ramadan, Allah Swt melipatgandakan pahala, amalan sunnah diganjar dengan ganjaran wajib, dan amalan wajib diganjar tanpa batas karena hanya Allah Swt yang tahu. Tentu, ini bagi mereka yang melaksanakan kewajiban puasa, sebagai ibadah khusus dengan tujuan agar menjadi orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah 183).

Cukup banyak alasan mengapa Ramadan menjadi bulan istimewa. Dalam tulisan ini tentu tidak bisa semuanya dipaparkan. Tetapi setidaknya ada dua hal yang penting penulis kemukakan di sini.

Pertama; karena di bulan Ramadan untuk pertama kali diturunkan wahyu Al-Quran, dan setiap yang ‘ditempeli’ Alquran pasti menjadi mulia. Maka orang yang belajar Alquran menjadi mulia, orang yang mengajar Alquran menjadi mulia, bahkan Nabi Muhammad SAW mengatakan khairukum man ta’allaml qur’ana wa ‘allamahu (sebaik-baik kalian adalah yang belajar Alquran atau yang mengajar Alquran), para penghafal Alquran (Hamalatul Qur’an) juga mulia, dan Malaikat Jibril menjadi ‘penghulu Malaikat’ atau Malaikat yang paling mulia karena ditunjuk oleh Allah Swt sebagai pengantar wahyu Alquran kepada Nabi Muhammad SAW.

Kedua; Ramadan merupakan bulan pelipatgandaan pahala. Sebagaimana kita ketahui, umat manusia zaman dahulu mempunyai umur yang panjang, bahkan Nabi Adam As dan Nabi Nuh As serta umatnya diriwayatkan mempunyai umur antara 900 sampai 1.000 tahun. Andaikata seperempat umur digunakan untuk beribadah, dan lainnya untuk melakukan kemaksiatan, maka ibadah mereka tetap jauh lebih banyak dibanding dengan kita (umat Nabi Muhammad SAW) yang umumnya berada pada kisaran umur 60-70 tahun berdasar hadits Nabi Muhammad SAW (a’maru ummati baina al-sittin wa al-sab’in).

Dengan diberikannya ibadah di bulan Ramadan, Allah memberi fasilitas bagi hamba-Nya untuk untuk melipatgandakan pahala sehingga dapat menyamai, bahkan menyalip pahala umat terdahulu. Lebih-lebih jika kita dapat memperoleh lailatul qadar yang oleh Allah dipersamakan dengan (nilai atau pahala) 1.000 bulan, bahkan lebih lagi (khairun min alfi syahr). Maka selayaknya kita juga harus bersemangat melipat gandakan amal shalih, baik shalih pribadi (memperbanyak tadarus Alquran, salat tarawih, salat lail lainnya, mengekang hawa nafsu, dan lainnya) maupun shalih sosial (infak, shadaqah, zakat, wakaf, mendamaikan orang bertikai, dsb) untuk meraih pahala yang berlipat-lipat. Allahu a’lam. (*)

BERITA REKOMENDASI