Sering Main Gawai, Anak Jadi Egois

BAGI kaum urban khususnya, gawai (gadget) seakan sudah menjadi bagian dari kehidupan. Anak-anak pun mengekor kebiasaan kita ini. Lantas bagaimana agar gawai tetap pada fungsinya sebagai alat bantu dan tidak berbalik menguasai kita? 

Tak dapat dimungkiri gadget atau gawai tidak bisa dipisahkan dari keseharian kita. Bagaimana tidak, setiap hari kita bergantung pada perangkat elektronik ini. Mulai urusan pekerjaan, bermain game , hingga sekadar mengecek lini masa di media sosial. Nah, aktivitas ini didefinisikan sebagai screen time , tak hanya dilakukan orang dewasa, melainkan juga anak-anak yang sudah terpapar sejak dini. Padahal seharusnya anak-anak mendapatkan stimulasi yang sesuai dengan pertumbuhan otaknya. 

Banyak penelitian telah memaparkan efek buruk screen time terhadap tumbuh kembang anak, dari potensi obesitas, ketidakpedulian, hingga agresivitas. Pada 2011 American Academy of Pediatrics menekankan rekomendasi bahwa bayi berusia di bawah dua tahun sama sekali tidak boleh menonton televisi. Sementara anak yang lebih besar hanya boleh screen time maksimal 2 jam sehari. 

Namun, pada akhirnya semua kembali ke orangtua. Sebab, sebetulnya kecil kemungkinan seorang anak dapat kecanduan screen time apabila orangtuanya bijak menggunakan gawai. “Screen time di sini bukan hanya ponsel pintar, tapi juga laptop, tablet, dan televisi,” ujar Elizabeth Santosa, psikolog anak. 

Psikolog yang akrab disapa Lizzy ini membeberkan beberapa efek negatif screen time terhadap anak, di antaranya paparan radiasi yang berakibat buruk bagi kesehatan mata khususnya, bentuk postur tubuh yang berubah, hingga carpal tunnel syndrome atau sindrom terowongan/lorong karpal. Ini adalah kondisi yang memengaruhi tangan dan jari hingga mengalami sensasi rasa kesemutan, mati rasa, atau nyeri. 

Gejala yang muncul ini biasanya berkembang secara perlahan-lahan dan pada malam hari akan bertambah parah. Bagian yang paling sering terpengaruh adalah jempol, jari tengah, dan telunjuk. Yang juga perlu dikhawatirkan adalah risiko anak menjadi malnutrisi entah itu kekurangan gizi atau justru obesitas. (*)

BERITA REKOMENDASI