5 Fakta tentang Micin yang Wajib Anda Ketahui

Editor: KRjogja/Gus

BELAKANGAN kita mungkin sering mendengar di sosial media mengenai “Generasi Micin”, sebutan itu untuk menggambarkan para remaja zaman sekarang yang kerap tidak berpikir panjang sebelum bertindak. Kemudian orang-orang menyebut jika perilaku seperti itu adalah dampak terlalu banyak mengonsumsi makanan mengandung penyedap.

Bahkan jauh sebelum “generasi micin” lahir, entah sudah berapa banyak orangtua yang melarang si Kecil jajan sembarangan. Bekal selama di sekolah pun sebisa mungkin racikan ibu demi menjamin keamanan dan kesehatan pangan tersebut. Sudah tentu tidak pakai micin.

Micin, vetsin, atau apa pun sebutan untuk penyedap makanan ini selalu diartikan negatif. Seakan micin adalah senjata yang dapat berdampak buruk bagi banyak orang karena dianggap tak mengandung apa pun yang berfaedah untuk manusia. Lalu bagaimana fakta sebenarnya tentang micin?

1. Berdasarkan penelitian di Eropa, Amerika Serikat dan Asia jelas membuktikan bahwa micin atau MSG yang digunakan dalam produk pangan atau sebagai bumbu aman untuk dikonsumsi manusia segala umur.

2. Garam lebih bahaya dibanding micin. Kandungan natrium pada garam bisa mencapai 36 persen, sedangkan natrium di MSG hanya 12 persen. Konsumsi yang tinggi akan natrium bisa menyebabkan hipertensi. Jelas bahwa garam lebih membahayakan ketimbang MSG. “Dari sebuah penelitian disebutkan bahwa Amerika konsumsi MSG itu mencapai kurang dari 1 gram per orang per hari, di Jepang 2 gram per orang per hari, di Indonesia khususnya di Jakarta-Bogor yang telah diteliti, konsumsinya menacapai 0,6 gram per orang/hari. Dari konsumsi yang ada di 3 negara itu menunjukkan bahwa orang-orang di Negara itu tetap pintar-pintar. Sehingga bila ada mitos yang menyebutkan MSG dapat membuat bodoh, terjawab dalam penelitian ini,” beber Guru besar Departemen Gizi Masyarakat FEMA IPB, Prof Hardiansyah MS PhD dalam acara Ajinomoto di Penang Bistro, Jakarta Pusat, Selasa, 23 Januari 2018.

3. Monosodium L-Glutamat (MSG) diproduksi melalui proses fermentasi alami yang menggunakan molasses dari gula tebu atau gula bit. Glutamat sendiri merupakan asam amino non-esensial pembentuk protein yang dapat ditemukan secara alami dalam makanan. Ada 2 tipe glutamate yang terdapat pada makanan, yakni glutamate terikat dengan asam amino lain membentuk protein, seperti daging, ikan, dan sayur.

4. Penambahan Glutamat (MSG) pada pasien rawat rumah sakit ternyata mampu meningkatkan asupan makanan. Artinya pasien mampu memenuhi kebutuhan gizinya lebih baik dan menunjang proses kesembuhannya.

5. Berdasarkan penelitian dari Toyama Jepang, ia mengidikasikan bahwa konsumsi makanan yang ditambah MSG mampu meningkatkan system imun pasien. Hal ini ditandai dengan membaiknya jumlah limfosit dan sel darah putih. (*)

BERITA REKOMENDASI