Begini Cara Membedakan Kantong Plastik Konvensional dan Bioplastik

KURANG beberapa hari lagi akan dilaksanakan hari raya kurban yang akan dilaksanakan oleh umat Islam. Pada hari itu akan banyak dilaksanakan penyembelihan hewan qurban kambing atau sapi. Daging yang akan dibagikan biasanya dibungkus plastik, karena plastik murah kuat dan mudah dibawa. Simpel, murah dan praktis!

Namun demikian, pada saat ini masyarakat atau panitia qurban yang akan membagikan daging qurban berfikir dua kali untuk memakai kantong plastik karena adanya isu lingkungan yang mulai terasa. Oleh karena itu, beberapa pihak mulai mencari alternatif. Beberapa diantaranya dengan produk-produk kemasan pangan dari bambu, besek bambu misalnya. 

Kebutuhan yang sangat besar akan wadah untuk daging qurban tersebut, dapat menyebabkan tidak terpenuhinya permintaan tersebut. Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa plastik masih merupakan bahan yang praktis, simpel dan murah sebagai pembungkus daging qurban. Tidak ribet, dan tidak memakan banyak tempat ketika dibeli, bayangkan seratus lembar kantong plastik dengan seratus besek, bahan plastik akan jauh lebih simpel dan tidak memakan tempat. Maka tetap saja ada upaya untuk menjual kantong plastik sebagai wadah daging qurban.  

Sekarang ini, banyak dijumpai secara online produk-produk yang menawarkan kantong plastik untuk wadah dan pembagian daging qurban. Terdapat dua jenis kantong plastik yang ditawarkan, yang satu masih merupakan plastik konvensional namun mudah terurai dan yang satunya adalah plastik dari bahan alam seperti kantong plastik dari singkong, atau banyak disebut bioplastik. Banyak yang bertanya-tanya, apakah benar bahwa plastik yang pertama disebut di atas ramah lingkungan dan kemudian bagaimana membedakan diantara keduanya?

Dari sisi teknologi memang terdapat produk plastik konvensional yang ramah lingkungan, yang dapat terurai lebih cepat dibandingkan dengan plastik konvensional biasa yang tidak ramah lingkungan. Namun, meskipun sama-sama dapat dirusak oleh alam, mekanisme kerusakan di alam, diantara plastik konvensional yang ramah lingkungan dan bioplastik, adalah berbeda.  

Untuk membedakan diantara kedua jenis plastik tersebut, tidak lah sulit. Cukup dengan tes bakar. Tanpa alat yang rumit, cukup dengan sarana sederhana yaitu korek api atau nyala api dari lilin.  Waktunyapun tidaklah lama, tidak perlu menunggu hitungan ‘hari’ maupun ‘jam’, cukup beberapa menit saja. Apabila dibakar, plastik konvensional akan cenderung terbakar terus, apinya akan terus ada. Tidak seperti plastik konvensionalnya, pada bioplastik singkong, ketika sudah terbakar, apinya akan lebih mudah mati.

Selain itu hasil pembakaran pun juga dapat digunakan sebagai pembeda diantara kedua jenis plastik tersebut. Warna hasil pembakaran dari kedua jenis plastik tersebut akan sama-sama gelap atau hitam. Hasil pembakaran dari plastik konvensional ramah lingkungan akan ulet, atau tidak mudah pecah ketika ditekan atau dipukul sekalipun. Sedangkan bioplastik singkong akan menghasilkan hasil pembakaran yang rapuh, atau mudah pecah ketika ditekan. 

Mudah sekali untuk membedakan diantara kedua jenis produk plastik tersebut. Dapat dilakukan segera dan cukup dengan sarana yang sangat sederhana. Hal ini tentu saja akan memudahkan untuk dapat menentukan dengan cepat dan mudah ‘keaslian’ kedua jenis plastik dimaksud. Serta memilih plastik ramah lingkungan mana yang lebih disukai dan ketersediaan dana, untuk kepentingan hari raya qurban nanti. (Sunit Hendrana PhD, Peneliti LIPI)

BERITA REKOMENDASI