Daun Kenikir Mencegah Bau Mulut

Editor: Ivan Aditya

TANAMAN kenikir biasa hidup sebagai tumbuhan perdu, bisa di pematang sawah, tepi jalan, kebun dan pekarangan. Umumnya merupakan tumbuhan liar, namun seiring dengan kemajuan obat herbal atau jamu tradisional kini tanaman ini banyak dibudidayakan sebagai tanaman obat keluarga (Toga). Para pembudidaya bisa dari Kelompok Tani Wanita (KWT), kelomntan tani (Klomtan), dasawisma, ibu-ibu PKK atau pun secara mandiri.

Dalam Serat Jampi Jawi tinggalan leluhur yang berisi hampir 261 resep jamu tradisional, disebut daun kenikir sebagai bahan pengobatan herbal dan bermanfaat untuk kesehatan tubuh. “Yen putra panjenengan mangane angel, unjukana godhogan godhong kenikir utawa bisa kanggo lawuh. Mesthi nafsu mangane bakal tambah, kejaba kuwi lalapan godhong kenikir bisa nyegah tutuk kang ngganda”.

Apabila anak sulit makan, minumlah ramuan atau rebusan daun kenikir, pasti nafsu makannya segera timbul. Juga mengonsumsi daun kenikir, akan mencegah bau mulut sehingga tidak mengganggu akitivitas sehari-hari. Demikian secuil resep obat tradisional tinggalan leluhur, yang di dapat dari daun kenikir.

Solusi meningkatkan nafsu makan pada anak, karena daun kenikir mengandung quersetin

yang sangat berguna bagi tubuh. Untuk mereka yang bartu saja sembuh dari sakit atau pasca operasi, apabila mengonsumsi daun kenikir secara rutin akan cepat sembuh. Hal ini karena dengan bertanmbahnya selera makan, stamina tubuh semakin terjaga secara optimal dampaknya sakit segera sembuh seperti sedia kala.

Daun kenikir mengandung alkohol koniferisl yang berperan sebagai antibakteri, fungsinya untuk menghilngkan bau mulut. Bisa dimakan mentah sebagai lalapan, atau cukup dikunyah dan setelah itu berkumur. Daun kenikir juga mengandung vitamin A, E dan C yang bermanfaat untuk meningkatkan metabolisme tubuh, disamping itu akan mampu meningkatkan kekebalan tubuh karena mampu melindungi dari kuman penyakit serta virus.

Ternyata daun kenikir juga bisa untuk pencegahan osteoporosis, karena sangat efektif menjaga tulang dari keropos. Caranya dengan mengonsumsi rebusan daun kenikir, bisa ditambah madu atau gula Jawa. Bisa juga dimakan sebagai lalapan, sehingga tidak bosan.

Sakit maag dan gangguan lambung

Dengan rutin meminum rebusan daun kenikir atau dimakan sebagai lalapan, ternyata juga efektif mengobati penyakit maag serta menetralkan asam lambung. Hal ini karena daun kenikir juga mengandung tokoferol, yang berfungsi menguatkan otot-otot pada perut. Untuk mengatasi gangguan pencernaan, bisa merebus daun kenikir dengan sedikit garam, kemudian diminum selagi masih hangat.

Sedangkan kandungan vitamin C dan E, bisa berfungsi sebagai detoksifikasi alam untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Dampaknya, darah akan bersih sehingga mempermudah kerja organ hati dan ginjal dengan baik.

Bagi yang jantungnya lemah, dengan mengonsumsi rebusan daun kenikir akan bermanfaat. Hal ini karena kandungan flavonoid pada daun kenikir akan menguatkan otot jantung, dampaknya melancarkan sirkulasi darah membuat jantung akan lebih kuat.

Selain menjehatkan jantung, ternyata meminum rebusan daun kenikir secara rutin akan membantu melawan pertumbuhan sel kanker, seperti kanker perut, hati, payudara, lambung dan sebagainya.

Apabila anda mengalami sakit gondongan, bisa memanfaatkan daun kenikir yang ditumbuk halus, kemudian campur dengan cuka lantas gosokkan ramuan tersebut pada tempat yang gondongan. Lakukanlah secara rutin, paling tidak tiga kali sehari, sampai sakit gondongan sembuh atau kempes.

Itulah beberapa manfaat mengonsumsi rebusan daun kenikir, atau bisa juga dimakan sebagai lalapan. Para leluhur tetap melestarikan Jamu Jawa tersebut, karena percaya tamba teka lara lunga sehingga sampai sekarang pun masih relevan untuk dilakukan. Disamping cara memperolehnya mudah, harganya pun murah, banyak di sekitar kita tumbuh tanaman kenikir.

Adalah Sulistya PA warga Gamplong 4, Sumberrahayu, Moyudan, Sleman kini memanfaatkan tanah pekarangannya seluas kurang lebih 200 meter persegi untuk tanaman empon-empon, buah langka seperti kepel, sawo, duwet putih, cabe Jawa, sirih hitam, merah dan hijau, bratawali, sembukan dan sayuran sehat yang semuanya berbasis bahan obat herbal tradisional.

“Saya siap membantu siapa saja yang membutuhkan, agar bisa meringankan beban kepada sesama sehingga hidupku migunani tumraping liyan dengan mengonsumsi bahan jamu tradisional disini,” ungkap pensiunan Dinas Pertanian, Perkebunan dan Peternakan DIY, Sabtu (31/07/2021) di rumahnya. (Sutopo Sgh)

BERITA REKOMENDASI