Cara Mendeteksi Virus Corona

Editor: Ivan Aditya

BELAKANGAN ini banyak masyarakat bertanya mengapa hasil laboratorium pasien yang diduga Covid-19 sangat lama diketahui hasilnya. Mengapa tidak seperti Tuberkulosis (TBC) yang hanya beberapa jam sudah dapat dideteksi.

Perlu diketahui, penyakit TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis. Bentuknya batang lonjong denganpanjang bervariasi sekitar 1-10 mikrometer dan lebar 0,2 – 0,6 mikrometer. Satu mikrometer sama dengan seperseribu milimeter.

Meskipun sangat kecil, bakteri masih dapat dilihat dengan mikroskop sehingga waktu pemeriksaannya cepat. Tenaga kesehatan yang sudah terlatih dapat melihat bakterihanya dalam 1-2 jam.

Sementara, Covid-19 disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory SyndromeCorona-virus-2 (SARS COV-2) atau biasa disebut Virus Covid-19. Bentuknya bulat seperti bola, ukuran diameter bervariasi 50-200 nanometer. Satu nanometer sama dengan sepersejuta milimeter.

Jika dibandingkan dengan bakteri TBC, maka ukuran virus corona sekitar 100 kali lebih kecil dari bakteri TBC. Virus ini sangatlah kecil sehingga tidak terlihat oleh mikroskop yang ada dilaboratorium.

Ada beberapa cara untuk mendeteksi Virus Corona :

1. Kultur Virus

Hasil swab akan dikultur atau ditanam pada media tertentu selama beberapa hari. Setelah tumbuh banyak, akan dianalisis apakah yang tumbuh itu virus corona atau bukan. Cara ini tidak praktis, lama dan biasanya digunakan untuk penelitian.

2. Mikroskop Elektron

Dengan mikroskop elektron, Virus Corona berbentuk seperti Corona pada gerhana matahari. Corona adalah cincin terang yang melingkari matahari saat gerhana yang kemudian menjadi nama virus ini. Proses pemeriksaan lama, rumit dan tidak selesai dalam lima hari sehingga tidak digunakan untuk keperluan praktis. Pemeriksaan ini digunakan untukpenelitian.

3. Real Time (RT) Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction (PCR).

Metoode ini menjadi acuan seluruh dunia untuk menentukan diagnosis Covid-19. Prinsip pemeriksaannya adalah dengan mengambil sampel pasiendari swab hidung, tenggorokan atau cairan tubuh lain (darah, urin, tinja atau cairan otak). Kemudian, sampel ‘dicuci’ atau diekstraksi untuk menghasilkan materi genetik (RNA) virus. Hasil ekstraksi dimasukkan kealat RT-PCR untuk dibaca apakah ada RNA virus corona atau tidak.

Proses ekstraksi dan pembacaannya memerlukan waktu sekitar 4-8 jam. Jika hasilnya positif, pemeriksaan harus diulang 24 jam kemudian untuk konfirmasi hasil sesuai dengan protokol diagnosis. Jika sudah dua kali positif, baru bisa didiagnosis Covid-19. Oleh karena itu, hasil pemeriksaan baru bisa diumumkan pada hari ketiga.

4. Rapid TestAntibodi

Apabilavirus atau bakteri masuk dalam tubuh manusia, maka tubuh akan bereaksi melawan musuh tersebut dengan membentuk antibodi. Ada dua antibodi untuk melawan Virus Corona, yaitu Immunoglobulin M (IgM) dan Immunoglobulin G (IgG). IgM dihasilkan setelah hari keempat virus masuk tubuh, sedangkan IgG barusetelah hari ke-delapan. Tes ini mendeteksi kedua antibodi tersebut. Jadi, tidak mendeteksi virusnya secara langsung seperti pada metode RT PCR.

Rapid test dapat dikerjakan cepat, hanya sekitar 20 menit dengan sampel darah yang diambil dari ujung jari atau darah vena. Namun, karena tidak langsung mendeteksi virus, metode ini tidak bisa digunakan untuk menegakkan diagnosis Covid-19. Jika rapid test positif, maka tetap harus dilanjutkan pemeriksaan PCR. Ada pula rapid test yang mendeteksikomponen virusseperti dimetode PCR, tapi metode inibelum berhasil divalidasi.

5. Pemeriksaan Laboratorium Patologi Anatomi

Metode ini mengambil sampel organ tubuh pasien, misalnya paru-paru, jantung, ginjal dan lain-lain setelah pasien meninggal melalui proses otopsi. Pemeriksaan ini hanya untuk penelitian.

6. Tes Cepat Molekuler (TCM)

Dilakukan dengan cara memasukkan sampel ke dalam cartridge khusus yang kemudian dibaca dengan alat TCM. Pemeriksaan ini sudah biasa dilakukan di Indonesia untuk mendeteksi bakteri TBC dan alat TCM juga tersebar di banyak fasilitas kesehatan. Namun, Indonesia belum memiliki cartridge khusus untuk deteksi Covid-19. Negara maju, seperti AS dan Eropa belum mau mengirim ke Indonesiakarena masih untuk keperluan dalam negerinya.

Prof DRdr Sutaryo SpAK, dosen FKUGM, penulis buku SARS Cov 2004, Buku Praktis Covid-19 2020.
Dea Sella Sabrina, Tim Relawan Riset Covid 19.

BERITA REKOMENDASI