Fakta, Henti Jantung Tak Selalu Mematikan

Kepergian sang maestro campursari Didi Kempot menjadi duka mendalam bangsa ini. Pelajaran berharga yang bisa dipetik dari musibah ini adalah pentingnya checkup, seperti yang disampaikan Pakar Kesehatan dr Ari Fahrial Syam, SpPD.

Namun, penyebab kematian Didi Kempot yaitu henti jantung, mungkin masih awam bagi telinga Anda. Tapi, penyakit itu benar ada dan sebetulnya tak selalu menyebabkan kematian.

Seperti yang diterangkan Dokter Spesialis Jantung Primaya Hospital Bekasi Timur dr Ivan Noersyid, SpJP, tidak semua pasien yang mengalami henti jantung akan meninggal dunia. Sebab, henti jantung merupakan hasil dari sebuah proses panjang.

“Henti jantung harus melalui beberapa proses,” katanya melalui pesan elektronik yang diterima Okezone, Kamis (7/5/2020).

Jadi, kondisi pasien mengalami henti jantung diawali dari kematian otot-otot jantung. “Setiap 4 menit bagian-bagian otot jantung akan mengalami kematian,” sambungnya.

Semakin lama penanganan seseorang yang mengalami henti jantung, maka akan semakin banyak otot jantung yang mengalami kematian. Jika seseorang mengalami henti jantung namun tidak dilakukan tindakan medis, sambung dr Ivan, maka orang tersebut dapat mengalami kematian.

Lebih lanjut, dr Ivan menerangkan, henti jantung dapat dibuktikan dengan tidak terabanya nadi karotis. Ini dapat dicek irama jantungnya melalui Elektokardiogram (EKG).

Terdapat dua kondisi irama jantung yang terlihat dari hasil EKG, pertama kondisi irama asistol berupa aris datar atau dengan kata lain irama jantungnya datar (tidak berirama) dan irama pulseless electrial activity (PEA). Kondisi kedua ialah kondisi irama seperti garis berbentuk menyerupai rumput (ventrikular takikardi atau fibrilasi).

Perlu diketahui, denyut nadi pasien henti jantung bisa kembali berdenyut atau terdereksi. Jika begini, maka akan ditinjau apakah pasien masih bernapas atau tidak. Jika bernapas, kata dr Ivan, pasien akan diberikan bantuan pernapasan seperti pemasangan selang bantu napas berupa ventilator.

Setelah itu, pasien akan dilakukan pengecekan terhadap tekanan darah dan dilakukan evaluasi lanjutan terhadap irama jantung, kecepatan nadi, dan pemeriksaan kondisi kesehatan tubuh untuk melihat potensi penyebab henti jantung.

“Pada intinya, pasien henti jantung madih dapat diselamatkan jika dilakukan evaluasi ke rumah sakit dan waktu yang tepat. Semakin cepat resusitasi jantung paru dilakukan akan semakin tinggi harapan hidup pasien,” papar dr Ivan.

BERITA REKOMENDASI