Hubungan Seksual Dini Picu Kanker Serviks

YOGYA, KRJOGJA.com – Seks usia dini juga beresiko menjadi kanker  servik.
 
Menurut Deputi Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Prof. Rizal Damanik, Ph.D. di Yogyakarta menjelaskan jumlah remaja di Indonesia sangat banyak, yaitu mencapai 27.6% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 64 juta jiwa dari hasil sensus penduduk pada tahu  2010. Hal ini sangat penting bagi semua pihak untuk menyosialisasikan bahwa “Pernikahan dini "memiliki resiko tinggi terhadap kehamilan di usia dini dan kehamilan tidak diinginkan, oleh karena itu kesehatan reproduksi sangat penting bagi remaja.
 
Prof. Rizal Damanik, Ph.D. di Yogyakarta menjelaskan organ perempuan itu sangat rawan, jangan sampai kotor, jangan sampai melakukan hubungan seksual dini karena perempuan mudah terkena infeksi.
 
Oleh karena itu  BKKBN juga terus ikut berperan aktif serta menyosialisasikan ke seluruh masyarakat umum dan menyiapkan materi Kesehatan Reproduksi untuk dapat disampaikan di sekolah-sekolah serta membangun Pusat Informasi dan Konseling di sekolah-sekolah, sehingga dapat memberikan dan meningkatkan wawasan sejak dini tentang kesehatan reproduksi yang saat ini juga sedang gencar disosialisasikan ke pesantren-pesantren, ujar Rizal. 
 
Indonesia merupakan salah satu dari negara – negara yang berkomitmen untuk mencapai Sustainable Development Goals (SDGs) 2016 – 2030. SDGs memiliki agenda universal; khususnya tujuan ke- 3 (tiga) yaitu kehidupan sehat dan sejahtera serta tujuan ke- 5 (lima) mengenai kesetaraan gender yang memiliki kaitan erat dengan kesehatan reproduksi. Diharapkan pada tahun 2030 Angka Kematian Ibu (AKI) di seluruh negara sekitar 70 per 100.000 kelahiran hidup, angka kematian neonatal sekitar 12 per 1000 kelahiran hidup dan kematian balita sekitar 25 per 1000 kelahiran hidup. Sedangkan di Indonesia, angka kematian ibu masih cukup tinggi, yaitu 305 per 100.000 kelahiran hidup (Supas, 2015).
 
Berdasarkan SDKI 2017 Angka Kematian neonatal sekitar 15 per 72.000, angka kematian bayi sekitar 24 per 151.200 kelahiran hidup dan angka kematian balita sekitar 32 per 153.600 kelahiran hidup.
 
Menurut WHO, 490.000 perempuan didunia setiap tahun didiagnosa terkena kanker serviks dan 80% berada di negara berkembang termasuk Indonesia, setiap 1 menit muncul 1 kasus baru dan setiap 2 menit meninggal 1 orang perempuan karena kanker serviks. Artinya Indonesia akan kehilangan 600-750 orang perempuan yang masih produktif setiap bulannya. Mengutip data Kementerian Kesehatan RI 2009-2016, Kanker serviks banyak diderita perempuan usia 35-55 tahun, yakni 7.013 kasus, usia 56-64 tahun 2.718 kasus, dan usia lebih dari 65 tahun 1.105 kasus. Sekitar 450 kasus ditemui di usia 18-35 tahun dan 33 kasus pada usia di bawah 17 tahun. Selain itu berdasarkan survey dari Yayasan Kesehatan Indonesia ditemukan bahwa kanker serviks merupakan jenis kanker terbanyak setelah kanker payudara.
 
Saat ini Perkembangan kasus HIV AIDS dan Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia menunjukkan kecenderungan yang meningkat. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI Maret 2019 secara kumulatif dari Tahun 1987 s/d Maret 2019 terdapat 115.601 kasus AIDS dan 338.363 kasus HIV Positif. Sedangkan jumlah kumulatif kasus IMS dari Tahun 2016 s/d Maret 2019 sebanyak 30.895 orang.
 
Jumlah remaja di Indonesia sangat banyak, yaitu mencapai 27.6% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 64 juta jiwa (SP 2010). Hal ini sangat penting bagi semua pihak untuk menyosialisasikan bahwa “Pernikahan dini memiliki resiko tinggi terhadap kehamilan di usia dini dan kehamilan tidak diinginkan, oleh karena itu kesehatan reproduksi sangat penting bagi remaja, ujar Deputi Pelatihan, Penelitian, dan Pengembangan BKKBN Prof. Rizal Damanik, Ph.D. 
 
Selain itu, Rizal berharap Kunjungan Putri Mahkota Mary ke Indonesia,merupakan salah satu komitmen terkait kerjasama BKKBN dengan UNFA dimana Putri Mahkota Mary adalah duta dari UNFPA yang salah satunya kaitannya adalah dengan Kerjasama Selatan-Selatan Triangular yang berbasis pelatihan-pelatihan internasional yang diikuti Pusat Pelatihan dan Kerjasama Internasional BKKBN dalam upaya untuk mencapai three zero yaitu zero kematian ibu hamil dan melahirkan  zero unmet need keluarga berencana dan zero kekerasan terhadap perempuan. 
 
Kita tahu kunjungan Crown Princess Mary (Putri Mahkota) mengunjungi Indonesia sebagai bagian dari misi PBB dengan Dana Kependudukan PBB dan untuk memulai perayaan Denmark sekaligus peringatan 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia. 
 
Kunjungannya tersebut sebagian besar fokus pada kesehatan reproduksi dan seksual serta hak-hak dan pemberdayaan perempuan. Royal Court juga mengumumkan bahwa kunjungan tersebut akan memberikan wawasan tentang bagaimana hak kesehatan reproduksi dan seksual ditangani dan implementasinya di Indonesia yang memiliki populasi Muslim terbesar di dunia.
 
Putri Mahkota Mary telah menjadi pelindung Dana Populasi PBB sejak 2010 dan Pengadilan Kerajaan berfokus pada perang melawan kematian bayi, kematian ibu dan anak perempuan, sunat perempuan, serta baik perempuan maupun laki-laki berhak untuk hidup sehat dan memiliki kesempatan yang setara.
 
Putri Mahkota Mary juga bertemu dengan kelompok rentan yang berisiko tinggi terinfeksi HIV dan melihat apakah kerja sama di sektor swasta, di mana wanita di tempat kerja mereka memiliki akses ke klinik kesehatan dan bisa mendapatkan bantuan dengan kehamilan serta kebutuhan kesehatan reproduksi lainnya. (Ati/awh)
 
 
 
 
 
 

BERITA REKOMENDASI