Hasil Uji Klinis Sebut Remdesivir Berpotensi Sembuhkan COVID-19

KABAR baik dari peneliti, ahli kesehatan dan para peneliti yang masih berjibaku untuk bisa menemukan obat COVID-19 masih terus ditunggu oleh masyarakat dunia.

Kali ini, ada kabar dari penelitian klinis bioteknologi Gilead Sciences, yang dipimpin oleh Diana Brainard, sebagai kepala penelitian klinis antivirus. Pada Kamis 23 April 2020 kemarin, situs berita medis, Stat melaporkan beberapa hasil yang bocor dari uji coba klinis Fase 3 obat di Universitas Chicago.

Seperti disitat Firstpost, disebutkan dari 113 pasien COVID-19 parah yang diobati dengan infus remdesivir setiap hari, sebagian besar berhasil pulang, bisa keluar dari rumah sakit dalam kurun waktu hanya kurang dari seminggu. Selain itu, dari 113 orang pasien COVID-19 yang dirawat dengan diberi infus remdesivir setiap hari tersebut mencatat angka kematian relatif kecil, dua orang.

Meski seperti kabar baik, tapi Diana tidak mau buru-buru merasa senang terlebih dahulu. Ia merasa hasil tersebut sifatnya masih anekdot. Sebab percobaan yang dilakukan, disebutkan tidak termasuk kelompok kontrol. Data yang muncul bisa jadi sulit untuk diartikan.

“Kita harus menilai apakah obat itu bekerja, tanpa memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang khas dengan penyakit ini,” kata Diana.

Terlepas dari apakah remdesivir ternyata efektif atau tidak sebagai obat untuk pasien COVID-19. Sebelumnya, remdesivir sendiri pernah dianggap sebagai obat potensial untuk penyakit Hepatitis C, tapi hasilnya tidak seperti yang diharapkan.

Obat ini kembali naik pamor, pada saat wabah Ebola di Kongo, Afrika. Penggunaan obat remdesivir kala itu memang menunjukkan efek terbatas tetapi terbukti aman digunakan pada manusia.

Namun, tes laboratorium menunjukkan remdesivir memiliki kemungkinan punya efek yang kuat terhadap virus corona, tipe keluarga virus yang sama yang menyebabkan SARS dan MERS. Mengingat COVID-19 penyebabnya adalah virus corona, tepatnya SARS-CoV-2. Maka disebutkan obat remdesivir jadi salah satu dari sedikit obat yang berpotensi yang siap dalam uji klinis.

Diana mengaku, sejak Maret 2020 lalu, pihak Gilead Sciences menerima ratusan permintaan obat setiap hari. “Alih-alih memberikan obat kepada setiap pasien secara individual, Anda memberikannya kepada dokter secara individu dan mereka memberikannya sesuai keinginan mereka,” imbuh Diana.

Sejauh ini, menurut penjelasan Diana, ia dan rekan-rekannya di Gilead Sciences harus bekerja dengan sangat hati-hati, sedikit saja kesalahan manufaktur bisa berubah jadi bencana dan tragedy bagi banyak orang.

“Sebagian besar dari kita adalah dokter penyakit menular, dan kita tahu bagaimana rasanya merawat pasien yang sakit kritis yang memburuk di depan mata kita sendiri. Kesalahan manufaktur dapat menjadi bencana perusahaan. Penundaan kecil bisa berarti tragedi bagi sejumlah orang,” pungkasnya.

BERITA REKOMENDASI