Kapan Pembatasan Sosial Bisa Dicabut? Awas Resurgensi

JUMLAH kasus baru Covid-19 yang masih terus bertambah memunculkan pertanyaan: sampai kapan kita harus menjalani hidup serba terbatas ini? Kapan aturan pembatasan sosial bisa dicabut?

Penentuan waktu adalah hal terpenting dalam menetapkan kebijakan. Pencabutan aturan pembatasan yang terlambat akan mengorbankan sektor ekonomi-bisnis. Sebaliknya, pencabutan terlalu dini dapat berisiko mengakibatkan munculnya gelombang kedua wabah. Dalam arahan WHO 25 Maret 2020, gelombang susulan itu disebut resurgensi. Banyak pengambil kebijakan yang melupakan resurgensi, yang pasti akan muncul.

Resurgensi dapat mengambil pengalaman pandemi Flu Spanyol tahun 1918 pasca  Perang Dunia I (PD I). Flu  menginfeksi sekitar 500 juta orang dengan kematian mencapai 50 juta jiwa. Jumlah ini bahkan lebih banyak dari total korban PD I. Pandemi berlangsung selama 2 tahun dengan 3 puncak gelombang. Gelombang kedua adalah bencana terbesar.

Kasus pertama Flu Spanyol muncul pada Maret 1918 dari seorang juru masak tentara Amerika Serikat (AS). Tingginya mobilisasi tentara menyebabkan wabah menyebar cepat di Eropa yang menjadi medan perang. Wabah mereda 5 bulan kemudian, dengan angka kematian tidak lebih parah dari flu musiman.

Bencana sesungguhnya datang pada akhir Agustus 1918 ketika kapal-kapal tentara merapat di Inggris, Prancis, AS, dan Afrika Barat yang memicu munculnya gelombang kedua. Kurangnya ilmu kesehatan masyarakat dan negara-negara yang lebih mementingkan peperangan menjadi faktor utama yang membuat wabah ini merajalela. Gelombang kedua berlangsung hingga Desember 1918 dengan angka kematian tinggi . Saat itu hanya anjuran jangan meludah sembarangan. Belum ada wajib pakai masker, cuci tangan, distancing fisik dan sosial. Belum ada vaksin flu.

Kondisi serupa terjadi pada pandemi Covid-19. Dengan bangga Cina mengumumkan bahwa wabah di berakhir pada 19 Maret 2020. Pembatasan pun dicabut di beberapa wilayah. Namun, di akhir bulan muncul kembali ratusan kasus baru yang berasal dari klaster petugas kesehatan yang tidak memiliki gejala (OTG).

Di Hong Kong, per 2 Maret 2020 pemerintah mulai membuka pintu negara. Masyarakat mulai bekerja dan beraktivitas seperti biasa. Dua pekan kemudian, dilaporkan puluhan kasus baru yang umumnya merupakan kasus import.  Kondisi serupa juga terjadi di Singapur,Taiwan, dan negara lain. Akhirnya, pemerintah tiap negara memutuskan untuk memperpanjang aturan pembatasannya. Awla Mei, Italia sudah bersiap-siap untuk menghadapi gelombang kedua

Bagaimana mencegah resurgensi? Jangan sampai ada OTG, ODP, dan PDP. Musuh tidak kelihatan. Disiapkan tes masal Rapid Test dan RT PCR. Rapid test dapat digunakan untuk mendeteksi seberapa luas masyarakat telah terinfeksi. Banyaknya individu yang telah memiliki antibodi ( Rapid test positif)  dibarengi dengan hasil RT PCR negatif setelah beberapa minggu  bisa menjadi salah satu indikator untuk mencabut pembatasan sosial. Namun, pembatasan juga perlu dicabut bertahap. Jika muncul lonjakan kasus baru, pemerintah juga harus siap untuk mengaktifkan kembali aturan pembatasan.  (Iqbal Fahmi, dokter, tim relawn riset Covid 19, Sutaryo  Guru Besar FKUGM)

 

BERITA REKOMENDASI