KDS Victory Plus, Bantu ODHA untuk Hidup Lebih Berarti Bagi Lingkungan

HIV (Human Immunodeficiency Virus) merupakan virus yang menyerang kekebalan tubuh manusia, sedangkan AIDS (Acquaried Immunodeficiency Syndrome) adalah sindrom kekebalan tubuh oleh infeksi HIV (Noviana, 2013). Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang tidak mampu melakukan aktifitas sehari-hari mengindikasikan bahwa penderita mengalami penurunan kualitas hidup (Suryono & Nasronudin, 2014). Jumlah ODHA di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) masih cukup signifikan dang mengkhawatirkan jika terus bertambah. Berdasarkan data dari dinas kesehatan Yogyakarta ditemukan sejak tahun 1993 sampai tahun 2020 terdapat 5534 kasus dan diantaranya ada 1800 masuk fase AIDS.

Sejak pertama ditemukan HIV/AIDS menyebabkan berbagai respon seperti penolakan, ketakutan, stigma, dan diskiriminasi yang menyebabkan terjadi kecemasan dan prasangka terhadap ODHA (Frederikson, 2007). Namun, sejak Covid-19 jadi pandemi dunia HIV/AIDS pun seakan tenggelam padahal penyebarannya tetap terjadi. Adanya stigma dan diskriminasi yang berujung pada ketidaksteraan dalam kehidupan sosial dapat membuat orang dengan HIV/AIDS (ODHA) menjadi sulit membuka diri dan bersosialisasi. ODHA dengan kondisi kesehatan yang semakin hari semakin menurun membuatnya mengalami disfungsi sosial. Rasa tidak percaya diri membuat ODHA sulit menjalin relasi dengan orang lain. Terlebih, presepsi masyarakat yang menganggap bahwa ODHA mudah menularkan virus HIV/AIDS membuat ODHA semakin terkucilkan. Sehingga, ODHA merasa kesepian dan menarik diri dari lingkungan sosialnya.

Kualitas hidup ODHA dipengaruhi oleh level ketergantungan ARV, lingkungan, spiritual, dan dukungan sebaya (Rasyid, 2016). Salah satu faktor yang memiliki peranan penting dalam meningkatkan kualitas hidup ODHA adalah dukungan sebaya. Dukungan sebaya diartikan sebagai suatu kenyamanan, perhatian, penghargaan, atau bantuan yang dirasakan ODHA dari orang lain atau sesama ODHA. Dukungan sebaya ini dilakukan oleh kelompok dukungan sebaya (KDS) terutama yang baru mengetahui status HIV. Kelompok dukungan sebaya (KDS) yang berada di yogyaarta di koordinasikan oleh yayasan Victory Plus . Pola kelompok dukungan sebaya (KDS) dimulai dengan pertemanan tertutup bagi ODHA untuk saling berbagi pengalaman, ketakutan, dan harapan. Pola pun berkembang dengan kegiatan belajar bersama hingga keterlibatan ODHA lebih luas dalam penyebaran informasi HIV (Rasyid, 2016).

Adanya kelompok dukungan sebaya (KDS) Victory Plus bagi anggotanya, yakni ODHA di Yogyakarta sangat membantu untuk memulihkan kesehatan mereka baik secara fisik maupun secara sosial. ODHA yang telah tergabung di KDS Victory Plus ini, semakin lama mulai open terhadap orang lain, rasa percaya diri dan semangat untuk sembuh semakin meningkat, bahkan kemandirian juga terlihat pada saat berobat dan berkunjug ke klinik layanan. Kemampuan pendamping sebaya dalam melaksanakan perannya dengan baik pada setiap kegiatan yang dilakukan sangatlah menentukan keberhasilan dalam pendampingan khususnya kemampuan dalam memberikan layanan konseling dan kemampuan komunikasi yang baik.

Yayasan Victory Plus Yogyakarta memiliki peran sebagai wadah bagi ODHA untuk berkarya di masyarakat dan memberi ruang bagi orang yang peduli dengan masalah HIV dan AIDS. Yayasan ini mempunyai impian untuk mencapai kualitas hidup ODHA dan ODHA yang lebih baik dan sebagai wadah pemberdayaan ODHA dan orang hidup dengan HIV/AIDS (ODHA) yang bebas dari stigma dan diskriminasi.

Dalam kegiatan pendampingan terdapat lima prinsip ODHA yang harus dicapai, di antaranya :
1.Pertama adalah percaya diri, ODHA dimotivasi supaya mereka mampu terbiasa dan percaya diri dengan status HIV-nya. Karena pada umumnya, ODHA yang baru mengetahui status HIV cenderung malu, minder, dan memilih untuk menggurung diri bahkan bunuh diri
2.Pembekalan informasi yang benar mengenai HIV dan AIDS.
3.Mampu mengakses care supportand treatment yang disediakan oleh klinik ataupun layanan kesehatan yang mendukung.

BERITA REKOMENDASI