Kenali Sindrom Bayi Terguncang pada Anak

Editor: Ivan Aditya

MAYORITAS dokter percaya sindrom bayi terguncang merupakan trauma yang didiagnosis dapat membunuh seorang anak. Keputusan pengadilan baru-baru ini seperti dilansir telah menyatakan dokter masih ragu pada gagasan bahwa sindrom bayi terguncang secara langsung berhubungan dengan cedera kepala berat.

Namun menurut sebuah penelitian yang diterbitkan dalam The Journal of Pediatrics, 90 persen dari dokter setuju bahwa mengguncang-guncangkan anak bisa menimbulkan subdural hematoma (penimbunan darah di luar otak), pendarahan parah di retina, koma atau bahkan kematian.

Dalam kasus penganiayaan anak, pengadilan sering mengandalkan kesaksian ahli medis untuk menentukan penyebab yang paling memungkinkan pada cedera anak. “Klaim kontroversi terbesar dalam dunia medis mengenai sindrom bayi terguncang dan cedera kepala berat telah menciptakan efek mengerikan pada sidang perlindungan anak dan penuntutan pidana," kata penulis utama jurnal Sandeep Narang, Kepala Divisi Kekerasan Anak di Ann & Robert H. Lurie Children's Hospital of Chicacago.

Sekitar 628 dokter yang sering menangani anak-anak yang terluka di 10 rumah sakit anak-anak terkemuka di Amerika Serikat terlibat dalam penelitian ini. 88 persen dari responden menyatakan bahwa sindrom bayi terguncang adalah diagnosa yang valid, sementara 93 persen menegaskan bahwa sindrom bayi terguncang merupakan cedera kepala berat.

Lebih dari 80 persen dari dokter menjawab bahwa dampak dari mengguncang-guncangkan bayi mungkin atau sangat mungkin menyebabkan subdural hematoma pada anak berusia di bawah tiga tahun.

Sembilan puluh persen menyatakan bahwa sindrom bayi terguncang menyebabkan perdarahan retina parah. Dan 78 persen yakin bahwa sindrom ini mungkin atau sangat mungkin mengakibatkan koma atau kematian.

"Dari data yang kami peroleh, bisa disimpulkan bahwa mengguncang-guncangkan anak merupakan bentuk kekerasan yang berbahaya," kata Narang. (*)

BERITA REKOMENDASI