Kenapa Izin Edar Obat Diambil Alih Kementerian? Begini Kata Menkes

JAKARTA, KRJOGJA.com – Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan bahwa izin edar obat di Indonesia sesungguhnya dimiliki oleh Kementerian Kesehatan. Selain itu, fungsinya adalah untuk efisiensi.

Ini disampaikan Terawan dalam menanggapi pro kontra terkait pengambil alihan izin edar produk farmasi dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

"Selama ini ada Permenkes keluar didelegasikan. Kalau delegasinya saya perbaiki untuk tidak saya berikan kan tidak apa-apa," kata Terawan, ditulis Senin (2/12/2019).

Menurut Menkes Terawan, dalam Undang-Undang Kemenkes merupakan pihak yang menjadi pemegang izin edar obat-obatan.

Mantan Kepala Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Soebroto, Jakarta ini mengatakan, hal tersebut merupakan upaya efisiensi agar perizinan lebih cepat dan mudah.

"Karena kita tidak menilai sebagai pengawas tapi sebagai pre-market. Kalau post-market ikut mengawasi pre-market, jadinya pasti lama karena dianggap ini nanti begini, itu nanti begini, efisiensi waktu," kata Terawan.

Dia menambahkan, dengan perizinan yang lebih efisien, maka harga produksi obat-obatan bisa lebih murah.

Sebelumnya Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan pelaku industri di dalam negeri untuk menyetop impor bahan baku obat. Menurut laporan yang diterima Jokowi, 95 persen bahan baku obat di dalam negeri masih bergantung pada impor.

"Ini sudah enggak boleh lagi dibiarkan berlama-lama," tegas Jokowi.

Sebagai gantinya, Jokowi meminta diberikan skema insentif bagi riset yang menghasilkan temuan obat maupun alat kesehatan terbaru yang kompetitif dibandingkan produk-produk impor.

"Tolong ini digarisbawahi dan selanjutnya hasil riset itu disambungkan dengan industri penghasil alat kesehatan dalam negeri," ujarnya.

Mantan wali kota Solo itu memerintahkan penyederhanaan regulasi yang menjadi kendala di industri farmasi dan alat-alat kesehatan. Perintah itu disampaikan karena Jokowi masih melihat keruwetan pada regulasi di sektor farmasi dan alat-alat kesehatan.

"Sehingga industri farmasi bisa tumbuh dan masyarakat bisa beli obat dengan harga yang lebih murah," tuturnya. (*)

BERITA REKOMENDASI