Konsep Pengurangan Risiko Tembakau Alternatif Perlu Dimaksimalkan

INDONESIA Young Pharmacist Group (IYPG) bersama Koalisi Bebas TAR (KABAR) menggelar seminar dengan tema 'Pengurangan Bahaya Tembakau dan Upaya Berhenti Merokok Dalam Perspektif Farmasi dan Kesehatan Publik' di Yogyakarta.

Ketua IYPG, Arde Toga Nugraha, mengatakan bahwa seminar diadakan untuk memberikan pemahaman kepada apoteker bahwa mereka memiliki peranan penting dalam menyebarluaskan konsep pengurangan risiko terhadap produk tembakau yang dibakar.

Konsep ini merupakan sebuah upaya untuk mengurangi penyakit berbahaya yang disebabkan oleh rokok. Caranya dengan memberikan pilihan kepada perokok dewasa untuk beralih ke produk tembakau yang memiliki risiko kesehatan yang lebih rendah daripada rokok, seperti nikotin tempel, produk tembakau yang dipanaskan, dan rokok elektrik.

"Untuk menyukseskan konsep pengurangan risiko, tentu saja memerlukan peran besar dari berbagai pihak, termasuk para praktisi apoteker. Kita bisa mengambil contoh seperti di Selandia Baru, apoteker di sana menginformasikan produk tembakau alternatif untuk memberikan pilihan bagi perokok dewasa beralih ke produk tembakau yang lebih rendah risiko," kata Arde dalam keterangan resminya.

Pengajar Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat Universitas Padjajaran, Ardini Raksanagara, menambahkan bahwa apoteker dapat menyampaikan informasi mengenai perbedaan antara nikotin dan TAR. Sampai saat ini, publik masih berpendapat keduanya sama berbahaya bagi kesehatan.

Meskipun dapat memberikan efek adiktif dan psikoaktif, perlu diketahui bahwa nikotin bukan penyebab utama penyakit berbahaya terkait rokok. Justru TAR, yang mengandung berbagai senyawa karsinogenik, yang dapat menyebabkan kanker.

"Apoteker memiliki peran yang sangat penting untuk meluruskan kesalahan persepsi di publik. Perokok dewasa seharusnya punya akses informasi terhadap fakta ilmiah dan penelitian yang kredibel, sehingga mereka paham apa perbedaan nikotin dan TAR yang terdapat dalam rokok termasuk langkah alternatif yang dapat membantu mengurangi risiko kesehatan mereka," ujar Ardini.(*)

BERITA REKOMENDASI