Lagi Heboh Virus Flu Babi, Gejalanya Mirip dengan Covid-19?

Editor: KRjogja/Gus

Virus Flu Babi strain baru yang dikenal dengan virus G4 EA H1N1 cukup mengkhawatirkan masyarakat. Virus jenis baru ini dianggap berbahaya karena memiliki kemiripan dengan flu babi 2009 sekaligus flu burung Eropa-Asia.

Fakta menjelaskan juga bahwa virus G4 EA H1N1 ini saat diuji dengan vaksin yang sudah tersedia, diketahui lebih kuat. Maksudnya, vaksin tak mampu menghalangi virus menginfeksi tubuh.

Hal tersebut terjadi karena ini merupakan strain virus baru dan vaksin yang sudah ada yaitu vaksin flu babi tak cukup efektif membunuh virus baru tersebut.

Di sisi lain, memahami virus ini lewat gejala yang ditimbulkan pun menjadi penting untuk masyarakat, khususnya mereka yang memiliki kontak dekat dengan babi, seperti pengolah daging babi atau peternak babi.

Dijelaskan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi, gejala yang ditimbulkan virus flu babi jenis baru ini tak jauh berbeda dengan gejala virus influenza lainnya.

“Jadi, gejala ketika tubuh terinfeksi virus jenis bari ini ialah muncul demam, batuk, dan pilek. Ya, sama dengan jenis virus influenza kebanyakan,” terangnya pada Okezone melalui sambungan telepon, Jumat (3/7/2020).

Menjadi catatan ialah saat peneliti di China meneliti virus ini di tubuh orang yang positif terinfeksi, diketahui tak semuanya meunjukan gejala sakit. “Jadi, orang yang positif teinfeksi virus G4 EA H1N1 ada yang sakit tapi ada juga yang tidak,” sambungnya.

Dengan karakteristik seperti ini, masyarakat mesti meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan kebiasaan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), termasuk di dalamnya menjalankan protokol kesehatan seperti yang sekarang tengah digalakkan.

Masyarakat mesti tahu bahwa virus ini sampai sekarang diketahui menyebar dari hewan ke manusia, berbeda dengan virus SARS-CoV2 yang sudah menyebar dari manusia ke manusia.

Karenanya, pencegahan jadi upaya efektif yang harus dilakukan semua orang sekarang, khususnya mereka yang tergolong dalam kelompok faktor risiko seperti pengelola daging babi ataupun peternak babi.

“Meski sampai sekarang belum ditemukan kasusnya di Indonesia, sangat disarankan untuk kelompok faktor risiko meningkatkan PHBS, termasuk melakukan disinfektan pada peternak babi, lalu memastikan peternak maupun pengelola menggunakan alat pelindung diri saat berinteraksi dengan babi,” sambung Nadia.

BERITA REKOMENDASI