Mewaspadai Munculnya Risiko Hipertensi Pasca-Pandemi

YOGYA, KRJOGJA.com – Pelonggaran pembatasan sosial menyusul landainya laju pandemi, telah mendorong masyarakat untuk kembali beraktivitas normal.

 

Selain tetap mentaati protokol kesehatan, masyarakat sebaiknya juga mewaspadai munculnya risiko penyakit berbahaya seperti hipertensi.

Berangsur normalnya kegiatan masyarakat, ternyata dibayangi kembalinya gaya hidup tidak sehat. Mulai dari mengonsumsi makanan tinggi lemak, gula, garam, dan kolesterol yang berkontribusi pada potensi terjadinya penyakit jantung. Sementara makan berlebihan dapat berujung pada obesitas. Seperti diketahui, proses penyumbatan pembuluh darah karena penumpukan lemak, lebih rentan terjadi pada mereka yang mengalami obesitas.

Terlalu lama duduk dan kurangnya berolahraga juga dapat memengaruhi kesehatan seseorang, terutama jantung. Studi yang dipublikasikan dalam Annals of Internal Medicine tahun 2019 mengungkapkan bahwa gaya hidup pasif merupakan salah satu faktor risiko penyakit jantung. Ini berarti, semakin banyak duduk, semakin sedikit bergerak, maka semakin besar risiko terkena serangan jantung.

 

Satu hal yang perlu menjadi perhatian adalah penyakit tekanan darah tinggi yang sering disebut sebagai pembunuh senyap ini, ternyata umum dialami generasi milenial, khususnya yang berusia 22-40 tahun. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi pada kelompok usia 25-34 tahun mencapai 20 persen dan pada kelompok usia 35-44 tahun mencapai 34 persen.

 

Menurut Yayasan Jantung Indonesia (YJI), hipertensi sebagai salah satu faktor risiko penyakit jantung koroner, tidak hanya menyerang para lanjut usia namun juga generasi milenial yang lahir antara tahun 1981 dan 1996. Kenaikan prevalensi hipertensi pada milenial ini berhubungan erat dengan pola hidup tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik serta stres.

Kondisi psikologis yang bernama stres ini merupakan reaksi wajar yang dialami saat seseorang menghadapi ancaman, tekanan, atau suatu perubahan. Ketika itu terjadi, tubuh memproduksi adrenalin yang akan membuat jantung bekerja lebih keras dan memicu tekanan darah menjadi tinggi.

 

Stres kronis dapat berujung pada serangan jantung jika tidak dikelola dengan baik. Untuk mencegah penyakit jantung yang dipicu oleh stres, seseorang harus pintar-pintar mengelola emosi. Caranya adalah dengan meditasi, yoga, atau teknik pernapasan dalam.

 

“Untuk mengetahui apakah perawatan tersebut berhasil adalah dengan memeriksa tekanan darah secara teratur,” kata Herry Hendrayadi, Marketing Manager, Omron Indonesia.

 

“Gaya hidup berperan penting dalam mengontrol tekanan darah. Jika Anda berhasil mengontrol tekanan darah dengan gaya hidup sehat, Anda dapat menghindari, menunda atau mengurangi kebutuhan akan obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah Anda.”

 

Cara lain mencegah tekanan darah tinggi adalah dengan menjaga berat badan, berolahraga teratur, makan makanan yang sehat, mengurangi natrium, membatasi konsumsi alkohol, berhenti merokok, mengurangi kafein, mengurangi stres, memantau tekanan darah serta mengunjungi dokter secara teratur.

 

Pantau Tekanan Darah secara Mandiri

Mengukur tekanan darah saat ini dapat dilakukan secara mandiri. Para dokter merekomendasikan penggunaan alat ukur tensi di rumah karena sama akuratnya dengan klinik atau rumah sakit. Data ini akan membantu memberikan informasi kepada tenaga medis untuk mengambil keputusan yang bijaksana dan lebih baik.

 

Penggunaan alat ukur tekanan darah di rumah juga membuat pasien merasa lebih aman dan nyaman, terutama di masa pandemi, karena pasien tidak perlu keluar rumah hanya untuk mengukur tensi. Selain dapat menangani White-coat hypertension dan masked hypertension, serta membantu meningkatkan pengelolaan hipertensi, baik oleh dokter dan pasien.

 

 

“Untuk pengukuran mandiri, dianjurkan mengukur tekanan darah dua kali sehari serta melakukan pemantauan tekanan darah pada waktu yang sama setiap hari, karena konsistensi waktu akan mempermudah saat membandingkan hasil bacaan. Pastikan juga Anda menggunakan monitor tekanan darah yang sudah tervalidasi secara klinis untuk memastikan keakuratan hasil. Seperti seluruh perangkat alat ukur tensi OMRON yang telah diuji secara ketat dan divalidasi untuk akurasi klinis,” jelas Herry.

 

Herry mengaku optimistis dengan tren penggunaan alat ukur tensi OMRON ke depannya. Hal ini didukung semakin populernya pola perilaku masyarakat yang memilih alat ukur tensi di rumah serta naiknya kesadaran masyarakat akan pengelolaan perawatan kesehatan preventif selama pandemi.

 

Apalagi masyarakat medis terkemuka seperti American Heart Association (AHA), American Medical Association (AMA), dan European Society of Hypertension telah merilis panduan resmi perawatan hipertensi di rumah.

 

“Baru-baru ini kami mengumumkan penjualan kumulatif global monitor tekanan darah untuk penggunaan di rumah mengalami kenaikan 100 juta unit dalam lima tahun terakhir. Hal ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat global untuk menjaga kesehatan. Di saat yang sama, jumlah pasien dengan penyakit akibat gaya hidup naik secara dramatis dalam skala global,” kata Herry.

 

 

 

BERITA REKOMENDASI