Obat Modern Asli Indonesia bisa jadi Substitusi Impor

JAKARTA, KRJOGJA.com – Obat Modern Asli Indonesia (OMAI) bisa menjadi substitusi dari obat impor yang masih membanjiri Indonesia.

“Kita ingin mengembangkan brand baru, karena ternyata ada level yang disebut dengan obat herbal, dan herbal ada yang lebih kepada minuman penyegar atau membuat badan lebih enak. Kemudian ada obat herbal terdaftar yang sifatnya lebih bebas. Kita ingin maju satu tahap lagi, yaitu Obat Modern Asli Indonesia (OMAI). OMAI ini sudah melalui uji pra klinik/klinik,” Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Risetdan Inovasi Nasional (Menristek/Kepala BRIN), Bambang Brodjonegoro di Jakarta,Rabu (26/2 2020) pada Forum Diskusi: “Sinergi Triple Helix Bidang Kesehatan dan Obat.

Menteri menjelaskan ada 4 aspek penting yaitu bahan baku berasal dari tanaman asli Indonesia. Research and Development (R&D) dikembangkan dengan teknik modern oleh scientist Indonesia, di Indonesia. Scientifically proven; memiliki data mekanisme kerja obat, data uji pra klinik/klinik, dan uji klinik dilakukan olehprincipal investigator Indonesia, dengan pasien Indonesia, di Indonesia.

“Produk fitofarmaka nya adalah Inlacin untuk diabetes dari kayu manis dan bunga bungur. Redacid untuk gangguan lambung dari kayu manis. Stimuno untuk daya tahan tubuh dari daun meniran. Disolf untuk jantung/stroke dari cacing tanah. Kemudian opsi ekspor ke manca negara yaitu ke USA, Canada, ASEAN, Eropa, dan Timur Tengah,” ungkap Menteri.

Ia menambahkan, 90 persen kira-kira bahan baku obat di Indonesia masih impor. Seperti diketahui pabrik obat besar di dunia juga mulai beralih dari bahan kimia ke bahan herbal, dan yang menariknya sebagian dari bahan herbal yang dipakai oleh pabrik-pabrik kelas dunia tersebut, sebagian tanamannya dari Indonesia.

“Tentunya teman-teman dari farmasi lebih tahu persis, bahwa Indonesia banyak biodiversity(keanekaragaman hayati), baik biodiversity yang ada di darat maupun di laut. Bahkan seseorang mengatakan kepada saya, masa depan obat di dunia itu nanti dari laut,” imbuhnya.

Menteri menamnbahkan saat ini masih lebih fokus kepada tanaman-tanaman yang ada di daratan, tapi ke depan, karena memang penyakit makin bervariasi, bahkan kadang-kadang terkaget-kaget penyakit timbul belum ada solusinya, belum ada obatnya, belum ada vaksinnya.

“Maka mau tidak mau kita lebih explore (jelajahi) juga untuk melihat bahan baku obat dari laut. Apakah bahan yang ada di permukaan laut, seperti rumput laut, ganggang laut atau sampai ke laut dalam,” paparnya. (Ati)

BERITA REKOMENDASI