Obat Penghambat Penyebaran Sel Kanker Ditemukan

SEBAGIAN besar kematian akibat kanker disebabkan ketika sel tumor menyebar penyakit ke seluruh tubuh. Dalam sebuah penelitian, seorang peneliti mengidentifikasi proses spesifik yang menyebabkan penyebaran sel.

Proses ini dikenal dengan nama metastis. Penggunaan obat secara bersamaan dapat mengganggu proses itu. Dalam penelitian yang dipublikasikan secara online di Nature Communications, para periset mempelajari penyebab proses metastis. Hasilnya menyebutkan bahwa metastis terjadi karena proses pensinyalan biokimia baru.

“Kami menemukan bahwa bukan keseluruhan ukuran tumor primer yang menyebabkan sel kanker menyebar, tapi seberapa erat sel-sel itu ketika melepaskan diri dari tumor. Kepadatan sel sangat penting dalam memicu metastasis," kata penulis studi utama Hasini Jayatilaka seperti yang dikutip dari Medicaldaily, Selasa (13/6/2017).

Para peneliti menemukan, kombinasi obat dapat membantu memperlambat metastasis. Dua obat yang mereka terapkan pada sel adalah Tocilizumab dan Reparixin. Tocilizumab adalah obat imunosupresif yang digunakan untuk mengobati rheumatoid arthritis sedang sampai berat, dan saat ini menjalani uji coba untuk mengobati kanker ovarium. Sedangkan, Reparixin belum disetujui, dan saat ini sedang dievaluasi pada sel kanker payudara.

“Dalam percobaan selama 8 minggu, saat kedua obat digunakan bersamaan, pertumbuhan tumor primer tidak berhenti, namun penyebaran sel kanker mengalami penurunan yang signifikan. Kami menemukan jalur sinyal baru yang jika diblokir berpotensi mengekang kemampuan kanker untuk bermetastasis," kata Jayatilaka.

Kanker sering menyebar ke bagian tubuh sehat lainnya sehingga menyebabkan peluang kematian akibat kanker mencapai 90%. Tapi meski demikian, obat komersial menargetkan situs utama daripada menghambat metastasis.

“Perusahaan farmasi melihat metastasis sebagai produk sampingan dari pertumbuhan tumor. Studi kami melihat lebih dekat pada langkah-langkah yang benar-benar memulai metastasis. Dengan melakukan ini, kami dapat mengembangkan terapi unik yang secara langsung menargetkan metastasis, bukan pertumbuhan tumor primer,” tutup penulis studi, David Wirtz. (*)

BERITA REKOMENDASI