Obat-Obat untuk Covid-19 yang Sedang Diteliti

Editor: Ivan Aditya

OBAT untuk Covid-19 dan vaksin belum ada. Saat ini dunia bekerja keras mencari vaksin dan obat antivirus tersebut. Pusat penelitian di seluruh dunia meneliti pelbagai obat yang diyakini mampu mematikan virus SARS-CoV-2.

Paling tidak beberapa dari obat antivirus tersebut saat ini telah dipakai menjadi terapi bagi pasien COVID-19 terutama dengan derajat keparahan sedang sampai kritis dan dirawat di Rumah Sakit Rujukan COVID-19.
Macam-macam obat yang sedang diteliti.

1. Klorokuin, telah lama dikenal sebagai obat anti-malariadan merupakan turunan dari kina. Baik klorokuin maupun hidroksiklorokuin basanya untuk terapi penyakit autoimun seperti lupus karena memiliki efek anti-radang yang merupakan dasar kerusakan yang terjadi pada penyakit autoimun. Pada Covid -19, kedua obat itu mampu menghambat masuknya virus ke sel saluran pernafasan, dan menghambat pembentukan virus-virus baru. Selain itu, pada kasusberat sampai dengan gagal nafas, obat ini disinyalir mampu menekan peradangan berat karena juga memiliki efek anti-radang.

2. Favipiravir, obat ini sebelumnya untuk mengobati influenza. Secara teori, obat ini sebenarnya cukup efektif mengobati infeksi virus jenis RNA seperti SARS-CoV-2 dengan cara kerja menghambat enzim yang dimiliki oleh virus RNA untuk proses replikasi virus di dalam sel yang diinfeksi. Saat ini uji klinis obat ini sedang dilakukan.

3. Lopinavir/Ritonavir, obat antivirus kombinasi yang sebenarnya merupakan obat untuk infeksi HIV. Antivirus ini bekerja dengan menghambat enzim virus yang berfungsi dalam pematangan virus-virus baru. Di Cina, obat ini menjadi salah satu obat standard pasien COVID-19. Sama seperti Favipiravir, uji klinis sedang dilakukan.

4. Remdesivir, baru-baru ini disetujui oleh otoritas farmasi Amerika Serikat (FDA) sebagai obat COVID-19. Sebelumnya, antivirus ini digunakan untuk wabah Ebola pada tahun 2013-2016. Karena virus Virus Ebola dan virus Sarcov 2 sama sama virus RNA.. Obat menghambat enzim virus untukreplikasi. Uji klinis yang dimenyebutkan kecenderungan penyembuhan yang lebih cepat pada pasien yang diberikan obat ini.

5. Oseltamivir, dikenal dengan nama merk Tamiflu. Antivirus ini sebelumnya telah dipakai di indonesia pada kasus flu burung H5N1 tahun 2005 dan kembali digunakan pada kasus COVID-19.Obat ini menghambat keluarnya virus-virus baru dari sel yang terinfeksi.Saat ini, masih belum ada bukti efektivitas obat ini terhadap COVID-19 dari uji klinis skala besar. Meskipun belum ada bukti efektivitas terhadap SARS-CoV-2, obat ini diketahui mampu mencegah memburuknya COVID-19 akibat kombinasi infeksi dengan influenza.

Penelitian obat dan publikasi sangat cepat. Hanya dalam tempo 2-3 minggu, publikasi dapat merubah hasil penelitian sebelumnya. Hal itu menunjukan belum diterima obat tersebut sebagai obat viris Covid 19 yang direkomendasikan WHO.

Prof DRdr Sutaryo SpAK, dosen FKUGM dan Syahru Agung

BERITA REKOMENDASI