Rokok Konvensional Atau Elektronik ‘Vape’ yang Lebih Berbahaya?

TEMBAKAU masih terus merenggut nyawa manusia dan kematian disebakan tembakau masih terus meningkat sampai sekarang. Nikotin merupakan kandungan kimia yang terkandung di dalam tembakau. Menurut beberapa studi, produk tembakau telah terbagi menjadi dua, yaitu, produk tembakau yang mudah terbakar atau dikenali sebagai rokok konvensional dan produk tembakau yang tidak mudah terbakar atau dikenal sebagai rokok elektronik (vape).

“Sistem pengiriman nikotin elektronik atau dikenali juga “electronic nicotine delivery systems” (ENDS) atau dikenali juga sebagai rokok elektronik diciptakan dengan mekanisme untuk mengirimkan nikotin masuk ke dalam tubuh dengan cara pemanasan cairan yang terdapat di dalam alat tersebut. Cairan vape ini mempunyai beberapa komponen utama seperti nikotin, penambah rasa serta pelarut seperti propilen glikol atau gliserin. Rokok elektronik ditemukan pertama kali oleh Herbert A Gilbert pada tahun 1963, tetapi desainya dikomersilkan dan dipatenkan oleh Hon Lik yang berasal dari Tiongkok,” jelas Dr. Muhammad Abdurrahman Munir, M.Sc, dosen Universitas Alma Ata Yogyakarta.

Rokok ini mulai memasuki pasar di Amerika Serikat pada tahun 2007 dan mulai masuk pasar Asia Tenggara sekitar tahun 2012. Permintaannya terus meningkat tajam terutama di kalangan remaja. Produksi dari rokok elektronik ini pada mulanya bertujuan untuk mengurangi ketergantungan rokok konvensional yang diyakini memilik bahan kimia yang berbahaya dan lebih banyak dibandingkan dengan rokok elektronik. Bagaimanapun juga, beberapa studi telah menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektronik mempunyai bahaya yang hampir sama dengan rokok konvensional. Bahaya ini termasuk memperlambat kerja otak disebabkan kandungan nikotin, terpapar oleh bahan beracun seperti logam berat dan senyawa volatil organik yang terdapat di dalam cairan vape tersebut. Penggunaan rokok elektronik juga tidak dianjurkan untuk mereka yang belum pernah merokok di dalam hidupnya.

“Beberapa efek negatif muncul kepada perokok aktif dan juga perokok pasif apabila terpapar oleh asap rokok elektronik. Ini disebabkan kandungan kimia yang terdapat di dalamnya yaitu nikotin mempunya efek farmakologi yang dapat menyebabkan ketagihan yang pada akhirnya dapat menggangu kinerja otak, senyawa kimia ini juga dapat menyebabkan kecacatan pada bayi yang ada di dalam kandungan,” terangnya.

Kandungan aerosol yang terdapat di dalam rokok elektronik sangat banyak dan memberikan dampak yang berbahaya seperti:
1.Kandungan partikel halus dapat memicu asma dan vasokonstriksi yang berdampak pada kesehatan jantung.
2.Benzen, formaldehid, asetaldehid, toluen, cadmium, timbal dan nikel dapat memicu terjadinya kanker dan merupakan senyawa yang sangat beracun.
3.Propilen glikol dapat mengiritasi mata, tenggorokan, saluran pernafasan, dan memicu asma apabila digunakan secara berterusan.
4.Propilen oksida dapat menyebabkan kanker.
5.Dietilen glikol dapat menyebabkan toksisitas ginjal dan saraf.
6.Diasetil dan asetil propionil yang biasa digunakan sebagai pemanis di dalam rokok elektronik dapat menyebabkan bronkiolitis obliterans yaitu penyumbatan pada saluran pernafasan di paru-paru.
7.Senyawa karbonil yang menyebabkan toksisitas otot jantung, dan
8.Partikel tembaga nano yang bisa menyebabkan fragmentasi DNA.

Tidak bisa kita hindari, teknologi – teknologi terbaru dari rokok elektronik akan terus bermunculan. Ini dikarenkan produk ini begitu diminati terutamanya remaja. Produk yang baru muncul beberapa puluh tahun yang lalu telah mengubah pola pikir masyarakat di dunia terutama di Indonesia dalam mengkonsumi tembakau. Perubahan ini masih membawa dampak buruk.

“Bagaimana pun juga, suatu regulasi yang ketat harus diciptakan dalam usaha mencegah dan mengontrol generasi-generasi muda dari penggunaan rokok konvensioanal dan rokok elektronik, dan pada saat yang sama dapat memastikan konsumsi produk ini dapat dihentikan secara total,” pungkasnya.(*)

BERITA REKOMENDASI