Rutin Medical Check-Up Belum Cukup Cegah Kanker

Menerapkan pola hidup sehat dengan diet seimbang dan rutin olahraga bisa membantu menjaga kesehatan tubuh. Selain itu, masyarakat juga harus lebih peduli dengan kondisi kesehatannya. Salah satu caranya adalah rutin melakukan pemeriksaan ke dokter secara berkala atau yang lebih dikenal dengan istilah medical check-up (MCU).

Medical check-up biasanya memeriksa keseluruhan kondisi kesehatan pasien. Sebut saja tekanan darah, kadar gula darah, kadar kolesterol, kondisi paru-paru, dan lain sebagainya. Dengan MCU, maka bisa dilakukan tindakan preventif.

Ambil contoh, seorang pasien menjalani medical check-up. Dari hasil pemeriksaan diketahui dirinya mengalami hipertensi alias tekanan darah tinggi. Seperti yang diketahui, hipertensi berkaitan dengan penyakit kardiovaskular seperti serangan jantung dan stroke. Pasien yang mengetahui ia mengalami hipertensi bisa melakukan tindakan pencegahan seperti kurangi asupan garam, rajin berolahraga, dan kelola stres guna mencegah terjadinya serangan jantung atau stroke.

Akan tetapi, MCU saja ternyata tidak cukup untuk mencegah seseorang terkena PTM. Ada hal lain yang harus dilakukan. Misalnya untuk mencegah terkena kanker, selain melakukan MCU perlu juga deteksi dini. Pada wanita, agar tidak terkena kanker payudara rutin melakukan SADARI atau periksa payudara sendiri untuk melihat ada benjolan atau tidak. Selain itu, untuk yang sudah aktif secara seksual melakukan pemeriksaan pap smear guna mencegah kanker serviks.

"MCU saja tidak cukup untuk mendeteksi seseorang terkena kanker, apalagi mereka yang berisiko tinggi. Perlu pemeriksaan lain seperti pap smear dan SADARI. Kalau pada pria yang angkanya tinggi 'kan kanker paru, itu bisa dilihat dari hasil rontgen MCU, tapi masih ada kanker lain yang untuk mendeteksinya harus dengan pemeriksaan lanjutan," ujar praktisi kesehatan, dr Rizal Alaydrus.

Ditemui Okezone dalam suatu acara baru-baru ini, dr Rizal menyarankan agar masyarakat melakukan pemeriksaan tumor marker atau penanda tumor. Tujuannya untuk melihat kemungkinan adanya kanker di bagian tubuh yang sulit dideteksi dini. Saat ini sudah banyak laboratorium yang menyediakan fasilitas pemeriksaan tersebut.

"Pemeriksaan tumor marker itu nanti diambil darahnya, dari situ dianalisis, ada informasi CA berapa masing-masing area ada kodenya. Misal kalau tidak salah CA 16 itu untuk pencernaan. Kalau angkanya tinggi kemungkinan ada sesuatu, curiga ada tumor di pencernaan atau bakat," ujar dr Rizal.

Hasil analisis pemeriksaan tumor marker bisa menjadi panduan bagi pasien dalam menentukan gaya hidupnya. Apabila ada risiko terjadinya kanker, maka pasien dapat menghindari hal-hal yang memicu perkembangan tumor atau bahkan bisa menjadi kanker.

"Pemeriksaan tumor marker merupakan salah satu cara mencegah terjadinya tumor agar jangan sampai jadi kanker. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan 2 tahun sekali, itu sudah cukup. Tapi kalau ada faktor risiko pemeriksaannya satu tahun sekali," pungkas dr Rizal.

 

BERITA REKOMENDASI