Setiap Tahun Ada 295 Ribu Bayi di Indonesia Mengalami Kelainan Bawaan

PROSES kehamilan seorang wanita ternyata tidak dimulai sejak ia dinyatakan mengandung oleh dokter, pun ketika garis dua tampak di alat tes kehamilan. Namun, telah dimulai sejak wanita tersebut menikah, tapi pada kenyataannya sebagian besar wanita justru menganggap proses kehamilan dimulai sejak dinyatakan hamil, dan baru datang ke dokter kandungan atau rumah sakit bersalin ketika sudah telat datang bulan.

"Orang yang siap menikah tapi belum tentu menyiapkan kehamilan, karena sebanyak 90 persen wanita yang datang ke dokter itu bukan untuk hamil, tapi sudah dalam keadaan hamil," kata dr. UF Bagazi, Sp.OG, selaku Direktur RSIA Brawijaya, dan juga dokter obsgyn dan ginekologi RSIA Brawijaya, dalam pemaparannya ketika acara Mom's Journey, Beautiful Journey from Brawijaya Hospital, yang diselenggarakan oleh Rumah Sakit Ibu dan Anak Brawijaya, di Main Atrium Mal Senayan City, Jakarta, Jumat (15/12/2017).

Masih dalam pemaparannya, dokter UF mengatakan sebaiknya seorang wanita harus datang mengonsultasikan dirinya ke dokter kandungan atau rumah sakit bersalin ketika hendak merencanakan kehamilannya. Waktu perencanaan tersebut bahkan harus disiapkan sejak dua hingga tiga bulan sebelum kehamilan.

Meskipun sering dianggap sepele oleh banyak wanita, pemeriksaan sebelum kehamilan memiliki peran penting dalam proses kehamilan. Kegunaan dari pemeriksaan tersebut salah satunya bisa mencegah kelainan atau cacat yang akan terjadi pada bayi.

Berdasarkan data WHO SEARO pada 2010, diperkirakan prevalensi kelainan bawaan di Indonesia sebanyak 59,3 per 1000 kelahiran hidup. Artinya, ada sekitar 295 ribu kasus kelainan bawaan pertahun di Indonesia, jika setiap tahun lahir 5 juta bayi di Indonesia.

Tidak hanya itu saja, dikutip dari keterangan pers yang diterima, survei demografi kesehatan Indonesia pada 2012 menyatakan angka kematian bayi di Indonesia mencapai 32 per 1000 kelahiran hidup, dan kematian neonatal sebanyak 19 per 1000 kelahiran hidup. Kasus-kasus tersebut terjadi karena beberapa faktor, yang salah satunya disebabkan oleh ketidaktahuan ibu akan informasi semasa proses kehamilan, dan kehamilan.

"Perjalanan seorang ibu hamil dimulai sejak seorang wanita menikah, dan merencanakan memiliki anak. Pasangan yang akan merencanakan punya anak harus mendapatkan edukasi seputar kehamilan agar bisa mendapatkan informasi, dan mencegah penyakit yang bisa menurunkan kualitas kehamilan," tambahnya.

Serangkaian pemeriksaan yang mesti dilakukan tersebut tidak hanya dilakukan oleh wanita sebagai istri dan calon ibu, tapi juga pria sebagai suami juga calon ayah jika diperlukan. Tahapan pemeriksaan dimulai dengan skrining pemeriksaan laboratorium, untuk mendeteksi keberadaan thalasemia, anemia, dan penyakit lainnya.

"Yang pertama harus diketahui adalah kondisi tubuh dengan cara skrining pemeriksaan laboratorium, untuk melihat thalasemia, anemia, atau penyakit lainnya yang bisa mendukung penurunan kualitas kehamilan, pemeriksaan ini dilakukan karena kita berharap janin menjadi bayi yang sehat," imbuhnya.

Lebih lanjut, dokter UF juga menjelaskan pemberian asam folat, dan vitamin B9 pada calon ibu juga penting dilakukan agar mencegah kecacatan, seperti tidak ada tempurung kepala, bibir sumbing, dan sebagainya. Dengan mengonsultasikan kehamilan pada dokter kandungan, melakukan skrining yang tepat, masalah tersebut bisa dicegah.

Namun, sayangnya tidak semua rumah sakit memiliki rangkaian pemeriksaan, konsultasi, dan program kehamilan yang dibutuhkan ibu serta calon bayi. Akan tetapi, Anda tidak perlu khawatir karena ada satu rumah sakit di Jakarta yang menyediakan program kehamilan lengkap dengan pendamping, dan serangkaian pemeriksaan serta konsultasinya, yang bisa membuat ibu lebih tenang, dan bahagia menjalani perjalanan kehamilannya.

"Untuk membantu kebutuhan ibu hamil akan pelayanan yang komprehensif, RSIA Brawijaya memiliki program Mom's Journey, suatu program unggulan untuk ibu hamil, agar dapat menikmati pelayanan kehamilan terbaik melalui penanganan maksimal oleh tim dokter spesialis serta dukungan penuh dari konsultan, dan tenaga kesehatan lainnya. Selain itu, ibu juga akan didampingi oleh tim yang selalu suaga membantu, mulai dari proses kelahiran, proses persalinan, hingga pasca persalinan," ucap dr. UF Bagazi, Sp.OG. (*)

BERITA REKOMENDASI