Soal Obat, Mindset Dokter dan Pasien Perlu Diubah

CARUT marut pelayanan obat masih terjadi di era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Misalnya ada pasien yang harus membeli obat di luar jangkauan e-catalogue dengan uang sendiri hingga kekurangan obat di layanan kesehatan primer mau pun Rumah Sakit.

Mengatasi permasalahan ini tak cuma dari hulu, tapi juga dari hilir. Dalam hal ini, peran dokter dan masyarakat atau pasien yang mengonsumsi obat perlu diedukasi kembali agar masalah pelayanan obat terus membaik.

"Pelayanan obat kan terkait di klinik dan Rumah Sakit. Masalah ini bisa diatasi dengan lebih mengedukasi dokter, apoteker dan harus ada kerjasama dengan pasien," kata Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH, guru besar bidang ekonomi kesehatan FKM UI di Jakarta, Kamis (22/12/2016).

Misalnya perkara mindset dokter di level Rumah Sakit atau fasilitas kesehatan lainnya yang masih tidak mau kompromi terkait obat paten. Dokter sering kali sulit untuk kompromi dan memilih obat sesuai dengan keinginannya.

"Mindset dokter seperti ini yang membuat pasien menebus obat di luar. Karena dia percaya pada satu obat tertentu untuk diberikan kepada pasien. Bisa jadi obat tersebut memang tidak dalam cakupan JKN," katanya.

Padahal sebenarnya, dokter sudah mengerti bahwa perkara obat meski beda merek tapi manfaatnya sama, jelas tidak ada beda. Sebab, ketika obat tersebut masuk dalam cakupan JKN, obat tersebut sudah masuk standarisasi Badan POM.

Kemudian pasien juga harus diberi edukasi terkait perbedaan obat beda merek, tapi khasiatnya sama. Kebanyakan pasien juga cenderung tidak yakin dengan obat baru.

Perlu adanya edukasi dan dialog saat konsultasi agar dokter bisa lebih rinci untuk menjelaskan obat dalam cakupan JKN yang hendak diresepkan pada pasien.

"Tentu saja edukasi ini bertujuan agar pasien mendapat pilihan obat yang tepat, dengan sedikit efek samping dan biaya murah namun tetap efektif," pungkasnya. (*)

BERITA REKOMENDASI