Tak Perlu Malu, Kondom Harus Jadi ‘Penyelamat’

PASAR KEMBANG bagi para pelancong yang mengunjungi Kota Yogyakarta dikenal sebagai lokasi prostitusi. Dengan menawarkan tarif cukup murah untuk sekali berkencan, berkisar  ratusan ribu rupiah saja, para pria hidung belang akan mendapatkan layanan cinta sesaat.

Koordinator Perhimpunan Perempuan Pekerja Seks Yogyakarta (P3SY), Sarwi mengungkapkan, sebagian besar para PSK yang ada di lokasi tersebut merupakan warga pendatang. Usia mereka juga beragam, dari usia belasan tahun hingga ada yang sudah setengah abad. "Usianya bervariasi, dari belasan hingga puluhan tahun," urainya.

Sarwi mengatakan, selain diperketat, mereka juga diperhatikan masalah kesehatannya. “Setiap pekerja seks saat melayani tamu diharuskan menggunakan alat kontrasepsi kondom,” ucapnya.

Namun ternyata, tidak mudah bagi Pekerja Seks Komersial (PSK) untuk membujuk pelanggan memakai kondom. Bahkan setiap berkencan, para pelanggan enggan menggunakan kondom dengan asalan tidak asyik saat memadu kasih.

Salah satu penghuni gang sempit di Pasar Kembang, berinisial Sus mengaku kalau tamunya justru selalu menolak memakai kondom. Jika ia memaksa memakai kondom, PSK tersebut justru khawatir tamunya akan meninggalkannya dan akan kehilangan pemasukan.

PSK tersebut mengaku, banyak alasan yang diungkapkan pelanggan untuk menolak memakai kondom. Namun, wanita ini pun tidak mau kalah agar dan membujuk agar pelanggannya untuk selalu menggunakan kondom.

Meski, banyak pelanggannya menggunakan kondom saat bercinta dengan dirinya, lanjut PSK tersebut, namun tak sedikit pelanggan yang sudah telanjur nafsu dan tak mendengarkan lagi apa yang diucapkannya. Kondisi seperti itulah yang makin mempertebal risiko penularan penyakit seksual dalam dunia prostitusi.

“Kami tahu pekerjaan menjadi PSK rentan terkena penyakit menular. Namun masalah menggunakan kondom, banyak tamu kami tidak mau pakai. Kami sebagai penerima tamu tidak bisa paksa mereka pakai kondom kalau mau dapat uangnya,” ungkap PSK tersebut.

Wanita yang mengaku berasal dari salah satu kabupaten di Jawa Barat itu menambahkan,  meski banyak tamu yang menolak menggunakan kondom, namun dirinya tetap berusaha dan merayu agar para pelanggannya bersedia menggunakan pengaman itu sewaktu berkencan dengan dirinya.

Saatnya Sadar Kesehatan Bukan Kebiasaan

BANYAK orang percaya akan mitos bahwa bercinta menggunakan kondom seperti 'makan kacang sekalian sama kulitnya'. Artinya kenikmatan yang didapat tidak maksimal jika bercinta tanpa menggunakan pengaman atau kondom. Dan inilah yang terus menjadi kendala untuk mensosialisasikan dan 'menyelamatkan' para PSK.

Pengurus daerah Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) DIY, Fisa Sasmawati, mengatakan, menyosialisasikan pemakaian kondom di kalangan perempuan pekerja seks tidak mudah. Sosialisasi yang dilakukan sejak tahun 1995 itu tidak langsung mendapat respon positif oleh kalangan pekerja seks komersial di wilayah itu.

"Kita awalnya mengadakan program pencegahan HIV/AIDS di komunitas mereka, melalui pelatihan dan penyuluhan seputar bahaya AIDS dan pencegahan penularannya," ujarnya.

Fisa mengatakan, pelatihan tersebut pada akhirnya untuk menyadarkan para perempuan pekerja seks dan pelanggannya, tentang bahaya virus HIV/AIDS terhadap ketahanan tubuh manusia.

"Kenapa kondom? Karena kondomlah medium paling efektif untuk mencegah transfusi virus HIV/AIDS," kata wanita manis ini saat ditemui  di kantornya, Jalan Tentara Rakyat Mataram Gang Kapas JT I/705 Jetis, Kota Yogyakarta.

Selama pelatihan, perempuan pekerja seks dibekali tips dan trik untuk merayu klien agar mau menggunakan kondom. Mulai dari dengan cara menakut-nakuti hingga sampai cara paling halus berupa rayuan. "Misalnya, meyakinkan klien kalau dengan kondom hubungan jadi lebih nikmat," ujar Fisa.

Hal senada juga diutarakan Daniel Tirta, Brand Manager Kondom Sutra. Menurutnya sosialisasi #UbahHidupLo yang diselenggarakan oleh Kondom Sutra semenjak 2017 lalu yang telah dilakukan di berbagai pelabuhan seluruh Indonesia, kali ini kembali menyasar masyarakat sebagai upaya untuk mencegah Infeksi Menular Seksual (IMS) di Indonesia.

Salah satu materi sosialisasi yang diajarkan pada penyuluhan #UbahHidupLo yang telah dilakukan di di berbagai wilayah kerja di Indonesia adalah menggunakan metode pencegahan IMS dengan rumus TTM: (Tahan Diri dengan tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah; Tetap Setia dengan pasangan Anda; dan Main Aman atau selalu menggunakan kondom pada saat melakukan hubungan seksual berisiko).

“Kondom sebagai alat kontrasepsi sudah tidak diragukan lagi mempunyai kegunaan dua fungsi utama, yakni mencegah IMS dan HIV, serta sebagai alat kontrasepsi untuk keluarga berencana. Penggunaan kondom secara konsisten sangat efektif untuk mencegah IMS dan HIV, serta mengatur jarak dan perencanaan kehamilan,” jelas Daniel Tirta.

Banyak Diabaikan, Penggunaan Kondom Perlu Dorongan Masyarakat

TANTANGAN terbesar dalam sosialisasi kondom saat ini, menurut Dosen Prodi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran UGM, Wenny Artanty Nisman adalah bagaimana memperbanyak VCT (Voluntary Counseling and Testing) kepada kelompok yang mempunyai faktor risiko memungkinkan melakukan hubungan yang tidak aman (tanpa pelindung), melakukan drug user (narkoba beramai-ramai) dan di daerah lokalisasi yang banyak dihuni oleh para PSK.

"Kelompok berisiko tinggi ini angka prevalensi masuk ke level terkonsentrasi (high level) atau sudah berada diatas 5 persen pada populasinya," tegasnya.

Sementara, pemakaian kondom di tingkat rumah tangga belum merupakan sebuah strategi, tetapi setidaknya bagi mereka yang hanya berhubungan dengan pasangannya menggunakan kondom atau tidak memang belum dianjurkan. Sampai saat ini pun masyarakat umum dimasukkan dalam kategori low insidensi dimana masih dibawah 0,1-0,5 persen di tingkat populasi.

Menurut Wenny, jika salah satu pasangan manyadari salah satu dari pasangan tersebut memiliki faktor risiko, misalnya si suami yang sering jajan tapi belum diketahui statusnya positif atau tidak, maka harus dibangun kesadaran untuk memakai kondom. Wenny menyadari bahwa ada sebagian masyarakat yang masih belum menerima keberadaan kondom dan mengindentikkan kondom dilekatkan pada kelompok yang memiliki perilaku menyimpang.

"Ada sebagian masyarakat yang kita anggap masih puritan masih menolak dan belum menerima pembagian kondom secara gratis ini," tegasnya.

Mayoritas penderita yang positif terkena HIV/AIDS, kata Wenny, berada pada usia 20-30 tahun. Usia ini menurut Wenny perlu dilakukan sosilisasi kondom lebih lanjut karena tidak dipungkiri masih banyak aktvitas seksual yang tidak menggunakan proteksi.

"Pada kelompok mahasiswa dan siswa masih sebatas penyuluhan, membangun perilaku seksual yang benar atau beradab serta bertanggungjawab," tukasnya.

Maka dari itu, jelas Wenny, sosilisasi kondom akan selalu tetap dilakukan kepada kelompok berisiko tinggi.

"Sosialisasi dan pembagian kondom secara gratis tetap diprioritaskan di tempat yang berisiko tinggi seperti di lokalisasi, dimana ada volunteer, ada penjangkau di bawah LSM secara regular membagikan kondom," tandasnya. (Danar Widiyanto)  

 

 

BERITA REKOMENDASI