Vaksin di Indonesia Belum Mampu Atasi Pneumonia Wuhan

WABAH virus korona di Wuhan, China membuat gempar masyarakat di dunia. Pasalnya wabah tersebut sudah mulai menyebar ke beberapa negara tetangga di Asia seperti Thailand, Korea Selatan, Jepang, Vietnam dan Singapura. Alhasil banyak masyarakat yang berbondong-bondong melakukan vaksin agar tidak tertular penyakit berbahaya ini.

Seperti diketahui virus korona yang bermutasi, akan membawa penyakit Sindrom pernapasan akut berat (SARS), yang kemudian mengarah ke bentuk pneumonia. Jika tidak ditangani serius penyakit yang satu ini bisa mengancam jiwa seseorang.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Dr. dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P(K), saat ini terdapat setidaknya tiga vaksin yang bisa mencegah pneumonia. Vaksin tersebut memiliki fungsi yang berbeda-beda dalam memproteksi tubuh dari bakteri.

Vaksin pertama adalah pneumokokus atau biasa dikenal sebagai pneumococcal conjugate vaccine (PCV). Vaksin ini akan memberikan kekebalan terhadap 13 strain bakteri streptococcus pneumoniae yang paling sering menyebabkan penyakit pneumokokus pada manusia. Masa perlindungan vaksin ini selama 3 tahun dan utamanya diberikan kepada bayi dan anak di bawah usia dua tahun.

Lalu Pneumokokus PPSV23 yang akan memberikan proteksi terhadap 23 strain bakteri pneumokokus. Vaksin PPSV3 ditunjukkan kepada kelompok umur yang lebih dewasa. Mereka adalah orang dewasa usia 65 tahun ke atas atau usia 2 – 64 tahun dengan kondisi khusus.

Vaksin ketiga adalah Hib. Vaksin iniakan melindungi seseorang dari bakteri Haemophilus Influenzae type B (Hib) yang merupakan penyebab pneumonia dan radang otak (meningitis). Di Indonesia vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi untuk bayi.

Sayangnya ketiga vaksin yang tersedia ini tidak bisa menanggulangi virus korona model baru yang sedang menyerang wilayah Wuhan, China. Pasalnya virus korona yang telah bermutasi itu masuk ke dalam kategori New Emerging Disease (penyakit baru). Bahkan World Health Organization (WHO) baru saja menyelidiki kasus yang telah menjangkit ratusan orang di Wuhan dan sedang mengembangkan vaksin untuk mengatasinya.

BERITA REKOMENDASI