Virus Berevolusi, Masyarakat Diimbau Vaksin Influenza Setiap Tahun

MASYARAKAT Indonesia perlu menambah pengetahuan mereka akan penyakit influenza serta dampak yang diakibatkannya. Sebab, selama ini masyarakat Indonesia sering salah memahami bahwa selesma (batuk dan pilek) adalah influenza. Padahal, keduanya adalah penyakit yang berbeda.

Ketua Indonesia Influenza Foundation (IIF), Prof. dr. Cissy B Kartasasmita, SpA(K), mengatakan, influenza atau flu merupakan penyakit saluran nafas akut yang mudah menular akibat virus. Penularan virus sangat mudah terjadi melalui udara dan percikan ludah.

“Komplikasi flu bisa menyebabkan radang otak, pneumonia, dan bahkan kematian, jika daya tahan tubuh penderita tidak baik,” ungkap dr. Cissy dalam jumpa pers di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (4/5/2018).

Perempuan lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) itu menambahkan, terdapat 500 ribu kasus kematian akibat influenza setiap tahun di dunia menurut data Badan Kesehatan PBB (WHO). Adapun kelompok yang rentan terkena influenza dan komplikasinya adalah anak-anak, lanjut usia (lansia) di atas 65 tahun, dan ibu hamil.

Dokter Cissy menganjurkan agar setiap anak mendapat vaksinasi influenza setiap tahun (usia 6-9 tahun dua kali dan 9 tahun ke atas cukup satu kali), begitu juga dengan lansia berusia 65 tahun ke atas. Patut dicatat bahwa virus influenza musiman yang dominan beredar dapat berubah setiap tahun melalui mutasi genetik.

Satgas Imunisasi Dewasa PB PAPDI, Prof. dr. Samsuridjal Djauzi, SpPD, mengatakan, dalam satu tahun ada dua jenis vaksin influenza yang ditentukan oleh WHO. Pada periode Maret-Oktober 2018, WHO menganjurkan vaksin Southern Hemisphere (SH), sementara periode November-Februari diberikan vaksin Northern Hemisphere (NH).

“Ketidaksesuaian strain dalam vaksin dengan virus yang beredar dapat menyebabkan penuruan efektivitas vaksin influenza sehingga perlindungan yang dihasilkan tidak optimal,” ujar lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) itu.
Senada dengan pemaparan dr Cissy, Samsuridjal menuturkan bahwa kasus influenza memang lebih sering ditemui pada anak-anak. Akan tetapi, kasus pasien meninggal akibat influenza lebih banyak terjadi pada usia lanjut. Karena itu, ia mengingatkan agar para lansia mulai dari 60 tahun ke atas, segera diberi vaksin. (*)

 

BERITA REKOMENDASI