Waspada, Pekerjaan Picu Gangguan Jiwa dan Anoreksia

LINGKUNGAN kerja nyaman adalah dambaan semua pekerja karena ada kompetisi yang sehat antar karyawan dengan beban kerja proporsional.  Namun, tidak jarang yang terjadi justru sebaliknya. 

Lingkungan berikut rekan kerja, ibarat 'neraka' berisi monster yang siap menghabisi kita setiap saat. Rasa tertekan dan tidak nyaman pasti menjadi hal yang selalu menghantui. Akibatnya selain fisik terasa sakit, dipastikan mental dan psikologi juga merasakan hal yang sama.

Dokter spesialis kesehatan jiwa Rumah Sakit UGM Yogyakarta, dr Tika Prasetiawati SpKJ menjelaskan, masalah tersebut akan menyebabkan individu sebagai sosok yang hidup dengan gangguan jiwa. 

"Gangguan yang tidak segera ditangani, bisa jadi akan semakin akut," jelas Tika 

Perasaan tertekan karena lingkungan dan suasana kerja yang kurang nyaman tersebut kadang terjadi pada anak-anak muda fresh graduate. Tetapi tidak jarang ada juga dari mereka yang berpengalaman.

Menurut Tika, memahami pekerjaan yang akan dituju bisa meminimalisir risiko ketidaknyamanan saat bekerja.

"Seseorang yang akan masuk dunia kerja harus siap berkompetisi, tidak hanya nilai akademis yang baik tetapi juga mencari informasi bagaimana suasana dan lingkungan kerjanya," katanya.

Menurutnya, kecerdasan intelektual (IQ) saja tidak cukup, tetapi kecerdasan emosional (EQ) dan kapasitas mental yang baik sangat menentukan. Sebab, memiliki EQ yang tinggi kelenturan (resiliensi) juga baik.

Tika mengingatkan, orang yang tidak memiliki resiliensi dan fleksibilitas yang baik di tempat kerja, bisa memicu terjadinya gangguan kejiwaan. Meski belum ada penyebab pasti, namun pada sebagian anak muda hal tersebut memicu terjadinya gangguan pola makan yang tidak sehat yang ditandai dengan memiliki berat badan yang terlampau rendah dari standar, atau anoreksia. "Prevalensi anoreksia banyak dialami usia remaja dan dewasa muda, terutama pada perempuan," ungkap Tika. (*-34)

BERITA REKOMENDASI