Waspadai Stres Kronik Akibat Pandemi Covid-19

KECEMASAN masyarakat dalam menghadapi new normal bisa berujung pada stres kronik. Stres adalah perasaan tidak nyaman yang disebabkan suatu masalah atau situasi tertentu.

Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa RS Royal Trauma N Saelan Tadjudin SpKJ mengatakan, ada beberapa jenis stres, termausk stres kronik dengan risiko masing-masing yang ditimbulkan. Umumnya, stres hanya berlangsung sekira 2 jam.

“Umumnya stres hanya berlangsung sekitar 2 jam. Lebih dari itu, berarti namanya stres akut,” ujar Saelan.

Stres akut, lanjut Saelan, adalah stres yang berlangsung beberapa jam hingga beberapa hari. Fight flight yang dialami mempersiapkan tubuh dari bahaya.

“Ketika seseorang mengalami stres, tubuh merespon dan fight flight itu mempersiapkan tubuh untuk menghadapi bahaya. Terlebih jika orang tersebut memiliki genetik penyakit kecemasan, tubuhnya akan selalu mengeluarkan sinyal untuk menghadapi bahaya,” jelas Saelan.

Jika stres akut hanya berlangsung mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari, ada stres yang lebih berisiko. Yakni stres berkepanjangan atau yang disebut dengan stres kronik.

“Stres kronik ini merupakan stres berkepanjangan, durasinya bisa berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan,” papar Saelan.

Stres kronik tentu lebih berbahaya dan dapat menimbulkan efek samping. Seperti gangguan kecemasan, maupun penyakit fisik.

“Stres kronik dapat berakibat pada gangguan tidur atau insomnia, sistem imun turun, mudah infeksi, berisiko kanker, cemas dan depresi, hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya,” pungkas Saelan

BERITA REKOMENDASI