Asyik Internetan, Anak Jadi Antisosial

BANTUL, KRJOGJA.om – Kegiatan bersosial yang semula dilakukan secara langsung atau tatap muka yang menjadi ciri masyarakat gemeinschaft, sedikit demi sedikit berubah. Kini orang mulai memilih berkomunikasi melalui media sebagai jembatan dalam komunikasi masyarakat termasuk di pedesaan. Tanpa ada literasi bermedia, dikhawatirkan hal ini akan memudarkan keguyuban.

“Penyalahgunaan dalam bermedia baru tersebut menyebabkan rawan munculkan terjadinya perselingkuhan, kesalahpahaman, sehingga berujung konflik dan keretakan dalam hubungan rumah tangga,” tandas Ketua Tim
Pengabdian Prodi Ilmu Komunikasi UMY Ayu Amalia SSos MSi, kemarin. Sebelumnya juga dilakukan ‘Penyuluhan Literasi Media bagi Masyarakat Pedesaan’di Kelurahan Desa Wonokromo Pleret. Tujuan utama dari penyuluhan media ini menurut Dosen prodi Ilmu Komunikasi UMY adalah untuk membentuk keluarga muda tangguh yang melek media dengan bisa bijak mengatur dan mengendalikan media.

Apalagi mengingat di masa Covid19, kegiatan dilakukan lebih banyak di rumah baik work from home maupun learn from home. Otomatis kegiatan itu sebut Ayu meningkatkan penggunaan media internet ataupun medsos. Teknologi media baru di tengah masyarakat luas disebutnya membawa perubahan yang signifikan dalam gaya berkomunikasi. Hal ini juga dirasakan, tidak hanya menyentuh masyarakat di perkotaan tapi juga sampai pedesaan. “Anak yang semula penurut menjadi sulit diatur, mudah emosi, sulit diajak beraktivitas religi dan antisosial karena kecanduan game online,” ungkap Ayu.

Lebih ironi, banyak temuan bapak-bapak muda asik bermedia sosial dan di sisi lain, ibu-ibunya kecanduan nonton sinetron di televisi. “Teknologi canggih memang diperlukan. Tapi jangan sampai terhanyut atau tidak bisa mengendalikan diri. Kalau ini terjadi, hanya akan menimbulkan ekses negatif dan berbahaya bagi kebersamaan
keluarga,” tandasnya. (Fsy)

BERITA REKOMENDASI