Awasi Konten YouTube, KPI Gandeng Kominfo & Kemendikbud

JAKARTA, KRJOGJA.com – Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Agung Suprio mengatakan jika pihaknya berencana mengawasi tayangan YouTube, Netflix, dan Facebook TV.

Pasalnya saat ini KPI tengah menunggu kewenangan Komisi 1 DPR untuk mengesahkan revisi Undang-Undang Penyiaran, di mana KPI ingin memasukan media baru seperti YouTube, Netflix, dan Facebook dalam pengawasanya sebagai lembaga penyiaran.

"Kita berencana mengawasi, semoga pengesahan segera dilaksanakan," kata Agung kepada Okezone, Kamis (8/8/2019).

Lebih lanjut Agung mengungkapkan jika alasan pembaruan undang-undang ini lantaran media penyiaran saat ini sudah semakin luas dengan adanya media-media baru seperti YouTube, Facebook TV, dan Netflix.

"KPI saat ini tengah berupaya untuk mengawasi media baru yang bersiaran. Media baru yang bersiaran seperti Netflix, Google TV, Facebook TV, YouTube, dan Instagram TV. Mereka bersiaran juga. Sebagaimana lembaga penyiaran yang konvesional. Selama ini KPI mengawasi lembaga penyiaran konvesional atau mainstream saja. Namun saat ini KPI berupaya untuk mengawasi media baru yang bersiaran tersebut," kata dia.

Lebih lanjut, jika UU Penyiaran telah direvisi dan disahkan, Agung juga berharap agar KPI nantinya bisa bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
"Dengan Menkominfo kami berkeingan agar beberapa media baru yang berkantor di luar negeri, memiliki kantor di Indonesia. Hal ini untuk mempermudah koordinasi, untuk mediasi dan konten siaran," jelas Agung.

Sementara itu, koordinasi dengan Kemendikbud disebutkan oleh Agung untuk kaitannya dengan literasi media. "Kaitannya dengan literasi. Pada dasarnya generasi milenial banyak menonton media baru. Oleh karena itu perlu adanya literasi digital. Dan literasi digital dapat dilakukan secara terstruktur, sistematis, dan massif jika memasukkan literasi ke dalam kurikukum untuk SD, SMP, dan SMA," jelas Agung.

Agung kemudian menjelaskan jika nantinya warga negara terutama generasi milenial mampu memiliki sensor diri untuk memilih tayangan yang baik. "Selain itu agar warga negara menjadi subjek," terang Agung.

BERITA REKOMENDASI