Bernyanyi dalam Bahasa Jerman Cepat Tularkan Covid-19, Ini Sebabnya

BERLATIH paduan suara ternyata telah menjadi salah satu sumber penyebaran Covid-19. Di negara bagian Washington, Maret lalu, mereka yang mengikuti paduan suara menjadi superspreader, dan menyebabkan dua orang meninggal dunia.

Ilmuwan di Jepang pun membuktikan bahwa dengan bernyanyi dengan beberapa bahasa akan membuat penyebaran Covid-19 lebih cepat. Dilansir dari laman CBS News, analisis oleh superkomputer Fugaku Jepang memperlihatkan bahwa bernyanyi akan menyebarkan partikel sekira tiga kali lebih banyak daripada berbicara.

Akan tetapi, para peneliti Jepang menginginkan penjelasan secara lebih detail. Apakah bernyanyi dalam bahasa yang berbeda menciptakan tetesan dan aerosol yang lebih berpotensi menular.

Kemudian jawabannya, iya. Peneliti menunjukkan bahwa ketika bernyanyi dan mengeluarkan tetesan dan aerosol, maka masing-masing bahasa akan mengeluarkan jenis partikel yang berbeda.

Para peneliti ditugaskan Desember lalu oleh Asosiasi Penyaji Musik Klasik Jepang, yang mewakili musisi profesional, orkestra dan manajer ruang konser, untuk menjalankan eksperimen yang melibatkan penyanyi tanpa masker.

Hasilnya adalah trilling dalam bahasa Jerman dan Italia menghasilkan partikel dua kali lebih banyak per menit, masing-masing 1.302 dan 1.166, dibandingkan bernyanyi dalam bahasa Jepang, yaitu jumlah partikel yang dikeluarkan sebanyak 580.

Akan tetapi, direktur asosiasi Toru Niwa memperingatkan bahwa kesimpulan dari penelitian tersebut tidak boleh menjadi menghindari musik Eropa selama pandemi.

“Musik klasik pada dasarnya adalah kanon barat. Jika kami berhenti bernyanyi dalam bahasa Prancis, Italia, dan Jerman, kami tidak akan bisa tampil lagi,” katanya.

BERITA REKOMENDASI