Computer Science Persiapkan Siswa Hadapi Abad-21

JAKARTA, KRJOGJA.com – Pengamat pendidikan dari Eduspec Indonesia Indra Charimiadji di Jakarta,Rabu (28/3 2018) menjelaskan computer science cukup efektif mempersiapkan siswa menghadapi tantangan abad ke-21.

Indra menjelaskan dalam acara Pembelajaran Coding dalam Menumbuhkan Kecakapan Abad 21 dan Computational Thinking’ Para siswa ‘zaman now’ tak cukup hanya mengandalkan sistem pembelajaran gaya lama. Indonesia sebaiknya mencontoh negara-negara maju di dunia, yang sudah lama menerapkan STEM, perpaduan sains, teknologi, teknik, dan matematika.

STEM atau disebut juga computer science, kata Indra, dinilai cukup efektif untuk mempersiapkan siswa menghadapi tantangan abad ke-21. Tak hanya sebatas memberikan teori-teori akademik, sistem ini juga memacu siswa menumbuhkan jiwa kreatif dan kolaboratif.

“Semua negara, di antaranya Amerika, Finlandia, Australia, Singapura, dan Malaysia sudah menerapkan hal itu. Kita yang belum. Jangan sampai kita selalu menjadi bangsa yang ketinggalan,” terang Indra .

Ada berbagai macam bentuk penerapan computer science di sekolah. Di Amerika, STEM diberikan kepada siswa kelas I SD hingga XII SMA, melalui mata pelajaran khusus. Sementara di Finlandia, STEM tak dimasukkan dalam mata pelajaran, akan tetapi siswa wajib mengaksesnya secara mandiri dalam bentuk e-learning.

“Jadi anak-anak dibawa untuk menciptakan aplikasi sendiri. Dan tiap anak itu kreatif menciptakan miliknya masing-masing. Misalnya kalau ada 30 anak, akan ada 30 aplikasi,” katanya.

Indra menambahkan, sebenarnya STEM bukan barang baru di Indonesia. Bibit sistem ini sudah diterapkan oleh Direktur Pembinaan Sekolah Dasar Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan. Hanya saja STEM di sekolah dasar bentuknya pedagogis.

“Kalau (computer science) ini mengombinasikan sains, teknologi, teknik, dan matematika,” jelasnya.

Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) M Bakrun menyambut baik penerapan computer science di jenjang pendidikan dasar dan menengah. Apalagi menurutnya, generasi saat ini tak bisa dilepaskan dari komputer dan penggunaan aplikasi.

Bakrun menegaskan, bila coding memungkinkan diterapkan di dalam kurikulum, teknisnya akan terus dikaji lebih mendalam oleh pemerintah. (Ati)

BERITA REKOMENDASI