Enam Tahun Lalu Tsunami Anak Krakatau Telah Diramalkan

PADA 2012 sekelompok ilmuwan merilis studi ilmiah yang mewanti-wanti bahaya longsor akibat erupsi Anak Krakatau yang bisa memicu tsunami. Hasil analisa mereka nyaris serupa dengan bencana pada 22 Desember lalu.

Meski dinilai kejadian langka, gelombang tsunami yang dipicu oleh longsor dari gunung Anak Krakatau bukan tidak pernah diprediksi sebelumnya. Dr. Thomas Giachetti, Asisten Professor di University of Oregon sudah membuat simulasi runtuhnya dinding kawah Anak Krakatau yang berpotensi menciptakan gelombang tsunami, pada tahun 2012 silam.

“Longsor pada lereng barat daya tidak boleh diabaikan. Karena longsor semacam itu berpotensi jatuh ke arah barat daya menuju kaldera 1883 dan mampu memicu gelombang yang menyebar di Selat Sunda, kemungkinan berdampak pada kawasan pesisir Indonesia,” begitu tulis ilmuwan dalam studi yang dirilis oleh jurnal ilmiah milik Geological Society of London, 2012.

Analisa Thomas Giachetti dalam studi ilmiah tahun 2012 tentang potensi longsor akibat aktivitas vulkanik Anak Krakatau.

Rapuhnya lereng barat Anak Krakatau disebabkan oleh posisinya yang berdiri di tepi kaldera peninggalan erupsi dahsyat 1883.

Selain itu arus laut yang tergolong kuat turut mempercepat pembentukan lereng barat sehingga jauh lebih curam ketimbang bagian timur gunung. Selama proses observasi, Giachetti dan timnya mencatat Anak Krakatau tumbuh semakin cepat ke arah barat daya.

Analisa potensi bukan prediksi

Prediksi Giachetti tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi pada Sabtu, 22 Desember silam. Lereng gunung seluas hampir 64 hektar longsor ke dalam laut dan memicu gelombang maut tsunami di Selat Sunda. Hal ini diakui oleh Ahli tsunami dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Widjokongko. Meski demikian dia menilai studi ilmiah Giachetti hanya menganalisa “potensi,” bukan “memprediksi” terjadinya tsunami.

“Saat ini kami sedang menghitung di lapangan apakah volumenya mendekati yang dimaksud,” dalam studi tersebut, ujarnya kepada Deutsche Welle.

Widjokongko memastikan saat ini BPPT sedang mempertimbangkan jenis teknologi pendeteksi dini yang paling cocok digunakan di Indonesia. Tiga jenis alat saat ini sedang dikaji oleh BPPT, yakni buoy tsunami, Cable Based Tsunameter (CBT) atau radar laut berfrekuensi tinggi.

Cable Based Tsunameter seperti yang digunakan Amerika Serikat dan Jepang tergolong teknologi yang paling mahal. Meski demikian kabel pendeteksi perubahan tekanan di dasar laut itu lebih akurat dan lebih cepat mengirimkan peringatan dini ketimbang teknologi yang lain. (*)

BERITA REKOMENDASI