Ahli Ragukan Rapid Test Covid-19, Ini Sebabnya

Seorang jurnalis dengan akun Instagram @puspitahana bercerita di media sosial bahwa dirinya positif Covid-19 meski sebelumnya 3 kali Rapid Test dengan hasil non-reaktif. Hasil positif dia dapati setelah melakukan PCR Test atau tes swab.

Fakta tersebut tentu membuat banyak orang bertanya-tanya, kenapa tiga kali Rapid Test hasilnya non-reaktif, tetapi hasil PCR Test memberitahu bahwa tubuh si pasien sudah terinfeksi virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19?

Bicara mengenai akurasi hasil, Dokter Spesialis Paru Agus Dwi Susanto, Sp.P(K) mengatakan, rapid test tidak akurat. Dia mengatakan, pemeriksaan rapid test ini digunakan untuk mendeteksi antibodi yaitu lgM dan lgG, yang diproduksi tubuh untuk melawan virus corona.

“Jadi gini, kalau ada 1 orang positif Covid-19 di perkantoran, rapid test aja enggak cukup karena tes hasilnya enggak akurat, perlu swab test,” ujarnya ketika dihubungi Okezone beberapa waktu lalu.

Agus menjelaskan, rapid test memiliki kelemahan, yakni bisa menghasilkan false negative ketika hasil tes tampak negatif meski sebenarnya positif. Ini terjadi jika rapid test dilakukan kurang dari 7 hari setelah terinfeksi.

“Padahal antibodi kan diperiksa belum tentu terbentuk atau bahkan tidak terbentuk sehingga tidak terdeteksi,” terangnya.

Jadi bisa saja seseorang terinfeksi hari ini kemudian belum muncul gejala. Karena berdasarkan teori muncul antibodi itu pada hari ke-7 hingga hari ke-10.
“Di antara hari ke 0 hingga ke 7 seseorang terinfeksi tidak akan terdeteksi antibodi, sehingga menjadi false negatif itu kekurangannya,” jelas dia.

Sementara itu, Direktur Laboratorium Mikrobiologi Klinis di Vanderbilt University Medical Center, dr Humphries Ph.D menerangkan, rapid test memiliki akurasi deteksi 75-80 persen, sedngkan PCR Test, akurasinya bisa mencapai 90-95 persen. Ini yang menjadi kekurangan dari rapid test Covid-19.

Karena itu, menjadi sebuah fakta ketika hasil Rapid Test Covid-19 menyatakan non-reaktif tetapi sejatinya di dalam tubuh pasien terdapat virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19.

“Kemampuan Rapid Test untuk mengidentifikasi dengan benar mungkin tidak selalu relevan secara klinis. Ini bisa terjadi karena tingkat virus di dalam tubuh seseorang sangat rendah, sehingga tak ‘terbaca’ Rapid Test,” paparnya dikutip dari New York Post.

Tingkat virus yang rendah ini maksudnya adalah kondisi saat pasien baru mulai ‘kemasukan’ virus sehingga infeksi yang terjadi belum begitu masif. “Saat virus sudah mereplikasi menjadi semakin banyak, di situlah dikatakan tingkat virus tinggi,” terang dia.

Dengan fakta tersebut, dr Humphries pun mengkhawatirkan potensi terjadinya penyebaran virus yang lebih masif karena status ‘bebas corona’ yang tak valid dari Rapid Test Covid-19.

BERITA REKOMENDASI