Fintech dan Marketplace Digandeng, Pasar Beringharjo Jadi Percontohan

PENATAAN pasar tradisional pada tahun ini kembali digulirkan. Namun bukan lagi fokus pada fisik melainkan dari aspek manajemen dan pemasaran. Pasar Beringharjo dan Pasar Klitikan Pakuncen pun dijadikan percontohan. 

Kepala Bidang Pengembangan Penataan dan Pendapatan Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Yogya Gunawan Nugroho Utomo, mengungkapkan pihaknya sudah menggandeng salah satu financial technologi atau fintech untuk sistem pembayaran retribusi bagi pedagang di Pasar Beringharjo.

"Saat ini sudah dikembangkan e-retribusi di sejumlah pasar tradisional. Khusus untuk Pasar Beringharjo kami kembangkan menjadi smart retribusi," jelasnya, Sabtu (7/12/2019).

Oleh karena itu, retribusi yang dibayarkan oleh pedagang kelak cukup dengan aplikasi fintech. Hal ini sekaligus sebagai edukasi dan mendukung gerakan nontunai yang sudah digulirkan pemerintah. Apalagi pedagang di Pasar Beringharjo saat ini sudah cukup akrab dengan uang elektronik. "Nanti kami tinggal melakukan pendampingan bagi pedagang. Kerja sama dengan salah satu aplikasi fintech sudah kami lakukan. Bukan kecanggihan teknologi yang diunggulkan, namun mindset pedagang dalam menghadapi perkembangan usaha," urainya.

Sedangkan di Pasar Klitikan Pakuncen, pihaknya juga menggandeng marketplace untuk memperluas pemasaran. Selama ini banyak pedagang di pasar tersebut yang sudah memanfaatkan e-commerce melalui berbagai toko online yang familiar di masyarakat. Hal itu juga sesuai dengan karakteristik dagangan di sana yang mayoritas merupakan asesoris kendaraan, elektronik serta barang bekas. "Harapan kami, model pemasaran dengan marketplace juga bisa dikembangkan di pasar lain. Keberhasilan penataan di pasar tradisional sangat bergantung dari pedagang sendiri," jelasnya.

Gunawan menambahkan, secara umum kondisi pasar tradisional di Kota Yogya masih tetap kokoh. Hal itu bisa dilihat dari berbagai kondisi ekonomi yang menghantam negara ini, namun tidak membuat goyang pasar tradisional. Berbeda dengan pasar modern yang sempat tergulung oleh krisis moneter tahun 1998 silam.

Selain menata manajemen dan pemasaran di Pasar Beringharjo dan Pasar Klitikan Pakuncen, pihaknya juga tengah memetakan ulang persoalan di Pasar Giwangan. Sebagai pasar induk buah dan sayuran, Pasar Giwangan membutuhkan akses yang memadai bagi pengunjung maupun suplier.

"Kami juga sudah gandeng salah satu perguruan tinggi untuk membuat roadmap rekayasa lalu lintas di arena Pasar Giwangan. Supaya nanti akses pengunjung dan aktivitas pedagang tidak saling terganggu," katanya. (Dhi)

BERITA REKOMENDASI