Ini Dia Kanaba, Produk Mesin Laundry ‘Karya Anak Bantul’

BANTUL, KRJOGJA.com – Mungkin selama ini kita hanya mengenal merk-merk mesin cuci macam Samsung, LG, Electrolux dan beberapa brand impor dari luar negeri. Tapi, siapa sangka produsen Indonesia tepatnya dari Padangan Sitimulyo Piyungan Bantul mampu membuat mesin laundry dengan kualitas setara brand-brand besar luar negeri.

Adalah merk Kanaba yang sekilas mirip dengan kata-kata dari Jepang di mana orang akan berpikir mesin tersebut produksi Negeri Sakura. Tapi tunggu dulu, Kanaba ternyata memiliki singkatan tersendiri yakni “Karya Anak Bantul”.

Brand yang kali pertama muncul tahun 2009 akhir ini digagas oleh pria 50 tahun bernama Ashari. Bukan doktor atau profesor, Ashari tak memiliki gelar dan hanya lulusan STM 2 Yogyakarta, namun karyanya saat ini sudah menjangkau hampir seluruh Indonesia.

Kepada wartawan dalam bincang santai Jumat (6/4/2018) di pabriknya kawasan Padangan Sitimulyo Piyungan Bantul, Ashari menjelaskan bahwa ide awal Kanaba bermula dari permintaan membuat mesin pengering pakaian yang terjangkau. Di medio 2009, harga mesin pengering masih sangat mahal hingga lebih dari Rp 12 juta.

“Saya coba buat model lemari, pakaian di hanger di dalamnya dan ada pemanas di bawah lalu ada blowernya. Berhasil satu bulan bisa menjual 20 buah dengan harga Rp 3,1 juta saat itu,” kenangnya.

Namun, layaknya pengusaha, jatuh bangun dirasakan karena beberapa waktu setelah penjualan, para konsumen yang rata-rata pemilik laundry mengeluh pakaian yang dikeringkan menjadi kaku dan sulit disetrika. “Saya coba ubah lagi, pemanasnya ditaruh di atas dan pakaiannya diputar agar tidak kaku. Disempurnakan lagi dan sampai saat ini (2018) sudah generasi ketiga dan dari segi kualitas berani bersaing dengan merk asing,” sambungnya.

Di masa perjalanan Kanaba, tantangan kembali muncul saat permintaan menyediakan mesin cuci dengan muatan kilogram lebih banyak mulai datang. Berbejal basis rekayasa teknik, tantangan tersebut pun dijawab Ashari dengan memproduksi mesin cuci custom yang mampu menampung hingga 100 kilogram kain sekali giling.

“Kami bisa mengikuti pesanan konsumen, mau 16 kilo, 30 kilo, 60 kilo bahkan 100 hingga 200 kilogram bisa dibuat karena 88 persen proses produksi termasuk bahan baku kami olah sendiri di pabrik Padangan Sitimulyo ini. Terpenting juga, produk kiblatnya Eropa dan kami sudah Standar Nasional Indonesia (SNI) sehingga kualitasnya bisa dipertanggungjawabkan,” ungkapnya tersenyum.

Tak heran pula keberanian, keuletan dan kualitas Ashari yang juga memberikan kesempatan kerja lulusan SMK di DIY ini membuat Kanaba merambah penjualan ke seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua. Produk mesin laundry dengan skala menengah hingga besar seperti Water Extractor Kanaba, Washer Capsule Kanaba, Extractor Kanaba, Dryer Kanaba dan Roll Ironer Kanaba kini begitu diminati konsumen dan bakal diekspor ke Asean 2020 nanti.

“Rata-rata konsumen kami rumah sakit, hotel, usaha laundry dan garmen dan sudah tersebar di seluruh Indonesia dari Aceh hingga Papua. Total karyawan yang sebagian besar asli Bantul mencapai 60-an orang. Untuk produksi setiap bulan di pabrik juga berkisar antara 30 hingga 40 unit dan terus kami kembangkan mengikuti permintaan pasar,” ungkapnya lagi.

Di sisi lain, meski produk lokal, Kanaba menurut Ashari berani memberikan pelayanan after sales yang sangat baik. Garansi hingga 10 tahun termasuk pelayanan servis cepat menjadi keunggulan Karya Anak Bantul ini untuk konsumen.

“Ada kasus kerusakan di Aceh, malam telpon pagi harinya kami cari tiket dan memberangkatkan teknisi, tak sampai satu hari sudah selesai, bisa digunakan lagi karena kami tahu betul kualitas barang yang dibuat. Sudah jadi komitmen untuk memberikan pelayanan after sales sebaik mungkin,” ungkap pria kelahiran 7 Februari 1969 ini.

Berjuang Masuk E-Katalog Pemerintah

Mengantongi SNI nyatanya tak membuat Kanaba bisa bernafas lega. Meski mendapatkan banyak keuntungan termasuk perlindungan dari intervensi produk asing, namun produk mesin laundry asli Bantul ini masih kesulitan memasarkan produk ke instansi pemerintahan.

Hal tersebut dikarenakan Kanaba belum masuk dalam elektronik katalog (e-katalog) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang membuat calon konsumen seperti rumah sakit pemerintah takut melakukan pembelian. “Kendalanya memang hal tersebut, ketika pemasaran terganjal belum masuk e-katalog dan rata-rata konsumen takut ketika melakukan pembelian dengan nominal lebih dari Rp 200 juta,” ungkap Ashari yang merupakan penggagas Kanaba.

Bersama timnya, kini Ashari sedang berusaha mendapatkan rekomendasi agar produk Kanaba bisa masuk e-katalog. Misi mempopulerkan produk lokal berkualitas menjadi salah satu hal yang terus diperjuangkan anak-anak Bantul yang belum sekalipun mendapat bantuan pemerintah.

“Prosesnya harus ada rekomendasi rumah sakit di kabupaten kota, lalu bupati/walikota dan terakhir gubernur DIY untuk kemudian ke LKPP. Sedang dalam proses dan semoga bisa segera masuk,” lanjutnya.

Ashari yang kini terus berusaha membesarkan produk Kanaba (Karya Anak Bantul) ternyata memiliki misi tersendiri membangun masyarakat di desanya. Sekolah wirausaha (enterpreneur) dengan mengedepankan pendidikan agama sebagai upaya menjauhkan mental korupsi kini tengah dijadikan tujuan hidup pria asli Padangan Sitimulyo ini.

Beberapa hektare tanah di sekitar pabrik sudah dibeli untuk nantinya dibangun gedung sekolah. “Saya berangkat dari pengalaman, hanya lulusann STM saja punya mimpi besar dan berani mewujudkan. Saya ingin menanamkan jiwa enterprenur pada generasi penerus nanti yang dibekali pemahaman agama kuat agar tidak korupsi,” pungkasnya. (Fxh)

BERITA REKOMENDASI