Jangan Egois Saat Mendirikan Startup

YOGYA (KRjogja.com) – Menjadi founder atau pendiri sebuah startup tidak mudah. Butuh pemikiran visioner agar startup yang didirikan bisa berkelanjutan.

Hal itu setidaknya yang mengemuka dalam Ignition 2 Gerakan Nasional 1000 Startup Digital Yogyakarta yang berlangsung di Graha Sabha Pramana, Minggu (18/09/2016). Ada 200 peserta yang sebagian berasal dari kampus-kampus di Yogyakarta, Jawa Tengah bahkan ada yang datang dari Lampung, khusus untuk mengikuti acara yang menjaring anak-anak mud a yang ingin masuk ke dunia startup digital.

Setidaknya ada 9 pembicara yang merupakan founder maupun co-founder startup digital di Indonesia. Mereka adalah Alamanda Shantika (Vice President GO-JEK), Andri Yadi (CEO Dycode), Leonika Sari (CEO Reblood), Alfatih Timur (CEO Kitabisa.com), Irwan Kartadipura (Founder IndoCPA), Firda Dwi Iswantoro (Co-founder Agate Yogyakarta), Eldwin Viriya (CEO & Founder, Own Games), Muhammad Nur Awaluddin (CEO Kakatu), dan Hiro Whardana (CEO & Co-founder CODEInc).

"Dalam tahap ignition ini merupakan tahap perkenalan antar peserta dan penanaman mindset tentang bagaimana menjadi founder suatu startup, karena tanpa mindset, startup tidak akan bertahan lama," tutur Saga Iqranegara, Chairman Digital Creative Association memberikan pengantar.

Terdapat lima sesi yang menjadi fokus ignition kedua Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ini. Fokus ignition tersebut adalah The Startup Journey, Dont Start a Bussines, Solve a Problem, Think Like a Founder, Fail Fast, Fail Forward, dan Building a Sustainable Startup.

Sesi pertama yaitu The Startup Journey dibuka oleh Andri Yadi (CEO Dycode). Dalam sesi tersebut Andri menuturkan bahwa dalam perjalanan mendirikan sebuah startup itu tidak mudah dan penuh perjuangan. "Jangan pernah berekspektasi startup digital kalian akan langsung berhasil, jika kalian berekspektasi seperti itu maka bersiap-siaplah kecewa. Semua butuh proses," ujarnya.

Andri menuturkan, ketika membangun sebuah tim, antara founder dan co-founder harus memiliki visi yang sama. Ia sendiri merasakan bagaimana berjuang seorang diri ketika kawan-kawannya mengundurkan diri. Selain itu godaan untuk bekerja di perusahaan juga tinggi.

"Bayangkan disaat kamu sebagai founder ditinggalkan oleh co-founder ada tawaran untuk bekerja di perusahaan multinasional yang gajinya sangat tinggi. Pada saat itulah saya kembali melihat apa yang selama ini sudah dapatkan, sudah lakukan dan visi saya kedepan," ujarnya. 

Sesi kedua yaitu Dont Start a Bussines, Solve a Problem. Dalam sesi tersebut dilakukan diskusi panel dengan pembicara Alamanda Shantika (VP GO-Jek), Alfatih Timur (CEO Kitabisa.com), dan Leonika Sari (CEO Redblood).

"Jangan egois kalau ingin mendirikan startup, kalian harus bertanya pada customer untuk riset. Ini penting sekali karena buat apa kalian bikin startup kalau nanti tidak ada yang menggunakan? Akhirnya tidak bermanfaat. Misalnya lakukan riset itu kepada 500 orang yang tidak kamu kenal di mall," ujar Alfatih Timur dalam sesi diskusi panel.

"Love your customer dan pakai produkmu sendiri. Kita gak bakal tau masalah customer kalau kita gak pakai produk kita sendiri," ujar Alamanda Shantika pada 200 peserta calon pendiri Startup Digital.

Miriam F Barata, Sekretaris Ditjen Aplikasi Informatika, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) ketika membuka acara mengatakan, hadirnya Gerakan Nasional 1000 Startup Digital, diharapkan bisa semakin menumbuhkan startup digital yang mampu memecahkan setiap permasalahan yang ada di Indonesia. (MG-07)

 

 

BERITA REKOMENDASI