Jelang Pemilu Brasil, Facebook Tutup Puluhan Akun

Editor: Ivan Aditya

BRASIL, KRJOGJA.com – Facebook telah menutup 68 halaman dan 43 akun yang berkaitan dengan Raposo Fernandes Associados (RFA) menjelang Pemilu Brasil pada Minggu (28/10/2018). RFA disebut melanggar peraturan Facebook terkait pernyataan keliru (misrepresentasi) dan kebijakan spam.

RFA adalah jaringan utama pendukung Internet untuk calon Presiden Jair Bolsonaro. Facebook mengatakan bahwa RFA membuat halaman menggunakan akun palsu atau banyak akun dengan nama yang sama. Semua akun tersebut mengunggah 'clickbait' yang bertujuan untuk mengarahkan pengguna Facebook ke satu pihak.

"Keputusan kami untuk menghapus halaman ini didasarkan pada perilaku para aktor ini. Termasuk menggunakan akun palsu dan berulang kali mengunggah spam, bukan pada jenis konten yang mereka posting," kata Facebook.

Facebook mengakui mendeteksi tingkah laku pelaku spam yang semakin sering menggunakan konten politik sensasional. Mereka bertujuan untuk membangun pendukung dan mendorong traffic ke situs mereka.

Jejaring sosial besutan Mark Zuckerberg ini mengatakan penghapusan halaman RFA adalah salah satu dari banyak langkah yang telah diambil untuk mencegah penjahat mengganggu pemilu di Brasil.

Sejauh ini pihak RFA enggan untuk berkomentar. Bolsonaro diperkirakan akan memenangkan pemilu yang paling terpolarisasi di Brazil dalam satu generasi. Dalam pemilu ini, media sosial menjadi medan pertempuran utama antar kandidat.

Layanan pesan populer miliki Facebook, Whatsapp juga mendapat sorotan di Brasil setelah kandidat presiden Fernando Haddad menuduh pendukung Bolsonaro menggunakan aplikasi tersebut untuk menyebarkan pesan berantai yang menyesatkan selama kampanye. Pengguna Whatsapp di Brasil menyentuh angka 120 juta dengan jumlah penduduk 210 juta jiwa.

Di Brasil, layanan pesan memang menjadi salah satu cara untuk berhubungan dengan teman, kolega, dan keluarga. Selain itu Whatsapp juga menjadi tempat untuk mendapatkan informasi politik. Akan tetapi, Whastapp juga dipenuhi dengan berita hoaks dan teori konspirasi. (*)

BERITA REKOMENDASI