Kelelawar Kebal Virus COVID-19, Ini Penjelasannya?

VIRUS corona COVID-19 sudah menjadi pandemi, para peneliti belum juga menemukan asal-muasal adanya penyakit ini. Namun bekalangan diyakini bahwa virus corona adalah jenis virus corona yang bersifat zoonosis.

Sekadar informasi zoonosis adalah penyakit atau virus yang dapat ditularkan kepada manusia dari hewan. COVID-19 diyakini memiliki persamaan dengan SARS-CoV yang berasal dari kelelawar dan ditransmisikan ke musang sebelum manusia.

Sebagaimana dilansir Boldsky, Rabu (8/4/2020), menurut penelitian yang diterbitkan pada 3 Februari 2020, urutan genom yang diperoleh dari pasien COVID-19, sebesar 76,6 persen identik dengan SARS-Cov.

Studi ini juga menunjukkan bahwa tingkat keseluruhan genom COVID-19 sebesar 96 persen identik dengan kelelawar pembawa virus corona. Hal ini memberi wawasan bahwa pandemi COVID-19 dapat dikaitkan dengan kelelawar.

Kelelawar diketahui membawa berbagai patogen zoonosis. Mereka termasuk dalam kelompok mamalia terbesar kedua yang terdiri dari 19 keluarga dan 962 spesies di seluruh dunia.

Kelelawar mengandung lebih dari 130 varietas virus. Sebanyak 60 spesies dianggap sebagai zoonosis dan sangat berbahaya bagi manusia. Menurut penelitian, kelelawar dianggap sebagai tempat penyimpanan virus karena karakteristiknya yang luar biasa.

Faktor tersebut berasal dari makanan yang dipilihnya, struktur populasi, sifat soliter, migrasi musiman, dan kemampuan mereka dalam hal terbang. Selain itun rentang hidup, hibernasi, kerentanan virus, dan pola pergerakan harian juga menjadi faktor pendukung lainnya.

Kelelawar sangat terkait dengan wabah pandemi seperti Ebola, SARS dan Nipah. Ini disebabkan karena tingginya kontak antara kelelawar dan manusia. Karena daging kelelawar banyak digunakan dalam produk industri.

Alasan lainnya adalah kebiasaan sebagian spesies kelelawar yang hidup dalam koloni atau berkumpul bersama. Kebiasaan ini membuat penularan virus menjadi mudah di antara mereka. Kelelawar juga menularkan virus di lingkungan melalui kotoran, air liur atau urin yang mudah ditularkan ke manusia.

Kelelawar memiliki rentang hidup yang panjang dan dapat hidup hingga 35 tahun. Umur panjang kelelawar membuatnya berpotensi membawa banyak virus yang menginfeksi mereka secara terus-menerus.

Dengan meningkatnya jumlah virus yang menginfeksi kelelawar, sistem kekebalan tubuh mereka mengembangkan antibodi dan menjadi resisten terhadap virus. Ini adalah alasan mengapa kelelawar biasanya tidak terinfeksi virus zoonosis.

Meski tubuh mereka kebal, sayangnya mereka bisa menjadi karier yang dapat menyebabkan penyakit parah ketika virus tersebut ditularkan ke manusia. Alasan lain yang membuat hewan ini berbahaya adalah kemampuan kelelawar untuk terbang.

Kelelawar adalah satu-satunya mamalia terbang di dunia. Ketika mereka terbang, tingkat metabolisme mereka meningkat menjadi 15-16 kali lipat. Peningkatan tersebut setara dengan dua kali lipat metabolisme tikus yang berlari dan delapan kali lebih tinggi daripada burung terbang.

Suhu tubuh kelelawar juga akan melonjak tinggi selama terbang. Tingkat metabolisme yang kuat dan suhu tubuh yang tinggi dapat membantu dalam pengembangan sistem kekebalan yang jauh lebih kuat untuk mencegah dari infeksi virus.

BERITA REKOMENDASI