Temukan Berita Hoaks di Grup WhatsApp, Lakukan Ini

JAKARTA, KRJOGJA.com – Direktur Eksekutif Plt. ICT Watch, Widuri mengatakan, berita bohong atau hoaks saat ini masih menyebar luas. Bahkan, berita hoaks yang sudah lama masih disebarkan hingga saat ini.

Ia juga mengatakan berita hoaks menyebar paling banyak di platform WhatsApp, khususnya di grup WhatsApp.

"Saya juga sering mendapat pesan broadcast yang masih beredar, bahkan itu postingan hoaks yang sangat lama dari 2016 dan ada lagi ada lagi," kata Widuri saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (3/10/2019).

Widuri lebih lanjut mengatakan bahwa sebenarnya seseorang dapat lebih aktif mencari pembenaran. "Karena memang kan sudah banyak counter-counternya terutama Mafindo yang aktif memberikan berita-berita yang dianggap tidak benar," kata Widuri.

Dia mencontohkan beberapa hoaks yang masih beredar hingga saat ini, salah satunya berita ada bahaya pengkristenan massal, sering disebar di grup-grup WhatsApp.

"Saya sering dapat video tersebut, beberapa kali juga ngasih tahu disetel dulu videonya dikerasin suaranya, karena ternyata itu memang video bukan lagu natal, tapi ternyata lagu himne sekolah. Jadi banyak yang suka lihat judulnya saja dan langsung share langsung share, tanpa dibuka dulu, dan di-share berulang ulang," jelas Widuri.

Lebih lanjut, Widuri juga menuturkan bahwa anak muda sekarang ini sudah sadar akan hoaks, namun mereka tidak mau atau segan untuk memberitahu kepada yang lebih tua.

Terutama saat broadcast hoaks tersebut menyebar di grup WhatsApp. Dia menyampaikan beberapa tips untuk mereka, pertama yakni menghubungi secara pribadi.

"Jadi japri dulu jangan to the poin di grup karena kalau di grup itu nyangkalnya ngeles-nya itu tinggi. Jadi minimal lewat japri kemudian dikirim link beritanya, postingan counternya bahwa Kominfo sudah menyatakan ini hoaks. Jadi dikasih tahu kebenarannya. Supaya mereka bisa percaya itu," kata Widuri.

Kemudian bagi seseorang yang sudah terlanjur menyebarkan hoaks, Widuri mengungkapkan untuk meminta maaf terlebih dahulu kemudian mengirim link berita faktanya.

"Sayangnya orang yang tahu dirinya salah tidak mau minta maaf," kata Widuri.

 

 

 

BERITA REKOMENDASI