Ternyata Nuklir Bisa Bikin Pakaian Tahan Air

SLEMAN, KRJOGJA.com – Yogyakarta memiliki laboratorium Iradiator Gamma Nuklir yang berada di Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Berbagai fungsi penelitian menarik ternyata bisa dilakukan sekaligus menunjukkan nuklir tak semenakutkan ceritanya. 

Baca Juga: Soal Bom Nuklir untuk Hadang Badai, Donald Trump: Itu Berita Palsu

Meneliti kandungan material hingga mengawetkan makanan bisa dilakukan dengan radiasi nuklir tersebut dalam daya yang disesuaikan pengaturannya. Teranyar, penelitian tentang teknologi pakaian tahan air pun bisa dilakukan dengan alat yang menggunakan teknologi Hungaria tersebut. 

Sugili Putra, Kepala Lab Iradiator STTN-BATAN mengungkap Iradiator memang digunakan secara mudah untuk menjelaskan bahwa nuklir tidak seperti yang ditakutkan orang selama ini. Peneliti yang masuk ke ruangan pun tak perlu menggunakan pakaian khusus lantaran sumber radioaktif tersimpan statis dan aman. 

“Salah satu yang beberapa waktu terakhir juga mengembangkan adalah material penyerap termasuk material hidrophobic atau yang tak suka air. Misalnya pengembangan pakaian anti air, caranya bahan yang hidrophobic dimasukkan misalnya contoh kain, diradiasi dalam waktu tertentu sehingga nantinya muncul menjadi tahan air. Ini juga sedang dikembangkan peneliti di lab Iradiator,” ungkapnya ketika berbincang dengan wartawan Jumat (30/8/2019). 

Tak hanya pakaian tahan air, STTN kini juga mengembangkan kemasan makanan tahan air untuk menjaga kualitas. “Bahannya bisa dari plastik, kertas atau lainnya yang lebih ramah lingkungan. Jadi tahan air ketika digunakan namun cepat terurai saat dibuang,” imbuh dia. 

Baca Juga: Rusia Kini Miliki Reaktor Nuklir Terapung

Para peneliti dari berbagai universitas pun kini tengah berkolaborasi dengan STTN untuk mengembangkan teknologi memanfaatkan iradiator tersebut. Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga misalnya, sedang mengembangkan pemuliaan tanaman untuk pengobatan penyakit malaria. 

“Sebenarnya siapapun boleh, peneliti dari manapun bisa melakukan penelitian di sini secara gratis. Syaratnya hanya satu, bekerjasama dengan STTN. Harapan kami Iradiator ini bisa dimanfaatkan maksimal karena manfaatnya sangat banyak,” ungkapnya lagi. (Fxh)

 

BERITA REKOMENDASI